KONTAN.CO.ID - HOUSTON. Harga minyak melonjak lebih dari 2% pada Jumat (30/10/2026) dan ditutup pada level tertinggi sejak akhir April 2026. Para trader bersiap menghadapi potensi eskalasi konflik yang melibatkan Iran setelah pemilihan paruh waktu Amerika Serikat (AS). Sementara serangan terhadap sebuah kapal tanker di Selat Hormuz menyoroti risiko pasokan minyak. Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember 2026, yang kontraknya berakhir pada Jumat (30/10/2026), ditutup naik US$ 2,76 atau 2,4% menjadi US$ 117,64 per barel, setelah sempat menyentuh level tertinggi di US$ 118. Kontrak untuk bulan Januari 2027 yang lebih aktif diperdagangkan naik US$ 2,63 menjadi US$ 113,43.
Sementara, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup naik US$ 2,12 atau 2,08% menjadi US$ 104,12. Untuk keseluruhan bulan ini, Brent mencatat kenaikan 13,6%, sementara WTI naik 15,2%. "Para trader akan terus memantau arus minyak dari Timur Tengah serta kemungkinan eskalasi oleh AS dan pasukan sekutunya," ujar Dennis Kissler, wakil presiden senior bidang perdagangan di BOK Financial seperti dilansir
Reuters.
Baca Juga: Pasar Global: Saham Jatuh, Emas Merosot, Kripto Drop, Obligasi Menguat Pada hari Jumat, sebuah kapal tanker di Selat Hormuz terkena alat peledak yang dipasang oleh sebuah perahu kecil, menurut UKMTO, layanan keamanan maritim Inggris. Belum diketahui pihak mana yang berada di balik serangan di selat tersebut, yang merupakan jalur laut utama bagi pasokan minyak mentah dan bahan bakar dari kawasan Teluk. Menurut sumber-sumber di sektor maritim, ini merupakan serangan sukses pertama yang diketahui di jalur perairan tersebut dengan menggunakan
limpet mine atau bahan peledak yang ditempelkan pada lambung kapal dari perahu kecil, sejak konflik antara AS-Israel dan Iran dimulai pada bulan Februari.
Eskalasi Lebih Tinggi
Kedutaan Besar AS di Riyadh pada hari Jumat menyatakan bahwa AS telah memerintahkan pegawai pemerintah yang tidak menduduki posisi darurat beserta anggota keluarga mereka untuk meninggalkan Arab Saudi, efektif mulai 23 Oktober 2026. Keputusan ini diambil karena adanya risiko keamanan, menyusul serangan kelompok Houthi terhadap bandara sipil dan infrastruktur penting lainnya. Kelompok militan Houthi di Yaman yang didukung oleh Iran menyatakan pada hari Kamis bahwa mereka telah menyerang beberapa lokasi di Arab Saudi, termasuk kilang minyak besar Ras Tanura, kilang Rabigh, serta fasilitas produksi di Abqaiq milik perusahaan minyak negara, Saudi Aramco. Koalisi pimpinan Arab Saudi juga menyatakan telah mencegat sebuah rudal jelajah yang diluncurkan oleh kelompok Houthi ke arah wilayah barat kerajaan tersebut.
Baca Juga: Binance Berupaya Pulihkan Kepercayaan Setelah Dibobol US$ 6,3 Miliar Sementara itu, menurut seorang pejabat yang mengetahui jalannya pembicaraan, mediator dari Qatar kembali ke Teheran pada hari Jumat sebagai bagian dari upaya terkoordinasi untuk mencapai kesepakatan antara AS dan Iran. Presiden AS Donald Trump mengatakan, Wakil Presiden JD Vance telah menghubungi Iran untuk membantu negara tersebut memperoleh pasokan medis. Pernyataan ini muncul setelah media AS melaporkan, Vance telah mengirim surat kepada pejabat tinggi keamanan Teheran guna menghidupkan kembali pembicaraan damai.
Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan, Iran telah menerima surat dari Vance namun belum memberikan tanggapan. Pihak Teheran menegaskan, mereka menginginkan AS memenuhi persyaratan yang diajukan, seraya menyatakan bahwa "posisi apa pun yang bertentangan dengan kerangka kerja ini tidak dapat diterima." Menurut laporan singkat dari Saxo Bank, harga minyak berpotensi menjadi jauh lebih fluktuatif dalam beberapa minggu ke depan, dipengaruhi oleh pemilihan umum di Israel baru-baru ini serta pemilihan paruh waktu AS pada tanggal 3 November. Bank asal Denmark tersebut memprediksi, harga minyak mentah akan berada pada kisaran yang lebih tinggi, yakni antara US$ 70 hingga US$ 90 per barel, bahkan setelah konflik berakhir—dibandingkan dengan kisaran harga sebelum perang yang berada di angka US$ 60 hingga US$ 70 per barel.
Baca Juga: China Siapkan Langkah Balasan Jika AS Tak Cabut Larangan Lab Pengujian Elektronik