KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia melonjak tajam pada Senin (2/3/2026) pagi, sementara pasar saham global merosot, seiring meningkatnya kekhawatiran bahwa konflik militer di Timur Tengah akan berlangsung berminggu-minggu. Investor beralih ke aset safe haven seperti dolar AS, emas, dan obligasi pemerintah. Melansir
Reuters, minyak mentah Brent naik 7,5% menjadi US$78,34 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 7,3% ke US$71,88 per barel. Harga emas melonjak 1,5% ke US$5.358 per ons.
Baca Juga: Australia Tegaskan Tak Akan Terlibat Militer dalam Konflik Iran Eskalasi terjadi setelah serangan militer oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran berlanjut, sementara Iran membalas dengan rentetan serangan rudal di kawasan tersebut. Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Daily Mail bahwa konflik bisa berlangsung “empat minggu lagi” dan menegaskan serangan akan terus berlanjut hingga tujuan AS tercapai. Fokus pada Selat Hormuz Perhatian utama pasar tertuju pada Strait of Hormuz, jalur vital yang menyalurkan sekitar 20% perdagangan minyak laut dunia serta 20% pasokan LNG global. Meski belum resmi ditutup, pelacakan maritim menunjukkan kapal tanker menumpuk di kedua sisi selat, khawatir terhadap risiko serangan atau kendala asuransi.
Baca Juga: Bursa Australia Turun di Tengah Eskalasi Timur Tengah, Saham Energi dan Emas Menguat Rystad Energy memperkirakan sekitar 15 juta barel per hari pasokan minyak terhambat akibat gangguan lalu lintas tersebut. Tanpa sinyal deeskalasi cepat, harga minyak berpotensi melonjak lebih tinggi lagi. Sebagai pembanding historis, embargo minyak Timur Tengah pada 1970-an sempat mendorong harga minyak melonjak 300% pada 1974. Dalam nilai saat ini, harga tersebut setara sekitar US$90 per barel—level yang dinilai realistis untuk terlampaui bila gangguan pasokan memburuk. Dampak ke Pasar Saham Global Lonjakan harga energi meningkatkan risiko tekanan inflasi global dan dapat menggerus daya beli konsumen maupun keuntungan bisnis. Di Asia:
- Indeks Nikkei Jepang turun 2,3% (maskapai terpukul keras karena Jepang mengimpor seluruh kebutuhan minyaknya).
- Korea Selatan melemah 1%.
- Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang turun 0,6%.
Di Eropa:
- Futures EURO STOXX 50 turun 1,9%.
- Futures DAX melemah 1,8%.
Di Wall Street:
- Futures S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing turun 1,1%.
Baca Juga: AS Kerahkan AI Anthropic, Bomber B-2 hingga Drone Bunuh Diri dalam Serangan ke Iran Dolar dan Obligasi Menguat Dolar AS menguat karena AS merupakan eksportir energi bersih dan obligasi pemerintahnya dianggap aset likuid yang aman saat krisis. Euro melemah 0,4% ke US$1,1768, sementara dolar naik ke 156,55 yen. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 2 basis poin menjadi 3,926% terendah dalam tiga bulan setelah sebelumnya sempat turun di bawah 4% untuk pertama kalinya sejak akhir November. Sorotan Data Ekonomi AS
Pasar juga menantikan serangkaian data penting AS minggu ini, termasuk survei manufaktur ISM, data penjualan ritel, dan laporan ketenagakerjaan (payrolls). Kelemahan data dapat mengguncang kepercayaan terhadap ekonomi AS, tetapi juga meningkatkan peluang pelonggaran kebijakan oleh Federal Reserve. Saat ini, pasar memperkirakan peluang 53% untuk pemangkasan suku bunga pada Juni dan total pelonggaran sekitar 60 basis poin sepanjang tahun ini. Dengan konflik yang belum menunjukkan tanda mereda, volatilitas pasar diperkirakan tetap tinggi dalam beberapa pekan ke depan.