Harga Minyak Melonjak, Serangan Houthi dan Ancaman Iran Picu Kekhawatiran Pasokan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi dalam beberapa pekan pada Selasa (8/9/2026), setelah serangan kelompok Houthi yang didukung Iran menghantam fasilitas energi di Arab Saudi. Ketegangan geopolitik semakin meningkat setelah Iran mengancam Amerika Serikat dengan apa yang disebut sebagai "perang ekonomi".

Kontrak berjangka minyak mentah Brent naik US$1,39 atau 1,43% menjadi US$98,39 per barel pada pukul 09.56 GMT (16:56 WIB). Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat US$2,25 atau 2,46% menjadi US$93,73 per barel.

Sebelumnya, harga Brent sempat menyentuh US$99,46 per barel, level tertinggi sejak 24 Juli. Adapun harga WTI mencapai US$94,73 per barel, yang merupakan level tertinggi sejak 8 Juni.


Analis pasar KCM Trade, Tim Waterer, mengatakan kenaikan harga minyak mencerminkan kombinasi antara ketatnya pasokan fisik dan meningkatnya risiko geopolitik.

"Pergerakan harga mencerminkan ketatnya pasokan fisik yang nyata—arus kapal tanker melalui Selat Hormuz masih jauh di bawah normal—serta premi risiko geopolitik yang jelas. Saat ini, premi risiko memberikan dorongan terbesar terhadap harga," kata Waterer.

Baca Juga: Pangeran Harry dan Meghan Terkejut, Kerajaan Tegaskan Mereka Bukan Lagi Anggota Aktif

Menurut dia, harga minyak berpotensi tetap tinggi hingga akhir tahun apabila situasi di Selat Hormuz masih belum stabil dan perkembangan diplomatik belum menunjukkan kemajuan yang berarti.

"Untuk sisa tahun ini, harga minyak diperkirakan tetap tinggi selama Selat Hormuz masih diperebutkan dan kemajuan diplomatik masih rapuh," ujarnya.

Fasilitas Energi Arab Saudi Diserang

Sejumlah fasilitas energi di Arab Saudi, negara eksportir minyak terbesar dunia, menghentikan operasionalnya sementara pada Selasa setelah serangan kelompok Houthi yang beraliansi dengan Iran.

Serangan tersebut menyebabkan 73 orang terluka dan disebut oleh otoritas Arab Saudi sebagai eskalasi berbahaya dalam konflik yang semakin meluas di kawasan Timur Tengah.

Gangguan terhadap fasilitas energi Arab Saudi menjadi perhatian pasar karena negara tersebut memiliki posisi strategis dalam rantai pasok minyak global. Setiap gangguan terhadap produksi, pengolahan, maupun distribusi minyak berpotensi memperketat pasokan dunia dan mendorong kenaikan harga.

Di sisi lain, Iran meningkatkan tekanan terhadap Amerika Serikat dengan mengancam melakukan "perang ekonomi". Teheran juga menyatakan telah meluncurkan rudal canggih ke arah kapal perang Amerika Serikat.

Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan penghasil minyak utama dunia.

Kapal Tanker Minyak Iran Diserang

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat juga meningkat setelah pasukan AS menyerang tiga kapal tanker minyak Iran pada Sabtu, termasuk sebuah kapal yang berada di dekat Pulau Kharg.

Pulau Kharg merupakan pusat utama ekspor minyak Iran. Berdasarkan informasi U.S. Central Command, serangan tersebut terjadi setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran menyerang kapal perang Amerika Serikat yang beroperasi di kawasan tersebut.

Baca Juga: Ekspor Mobil China Melonjak, Penjualan Domestik Tertekan 11 Bulan Berturut-turut

Situasi tersebut turut berdampak terhadap lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Aktivitas kapal yang melintasi jalur strategis tersebut melambat pada awal pekan ini setelah Iran pada Senin mengancam akan melakukan pembalasan apabila Amerika Serikat kembali melancarkan serangan.

Sebelum konflik berlangsung pada akhir Februari, Selat Hormuz menjadi jalur pengiriman sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia setiap hari.

Gangguan berkepanjangan di jalur tersebut berpotensi memberikan tekanan signifikan terhadap pasar energi global, terutama karena banyak negara bergantung pada kelancaran pengiriman minyak dan LNG melalui kawasan tersebut.

Goldman Sachs Naikkan Proyeksi Harga Minyak

Meningkatnya risiko gangguan pasokan membuat Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga minyak dunia.

Bank investasi tersebut menaikkan perkiraan harga Brent dan WTI masing-masing sebesar US$5 menjadi US$85 per barel dan US$80 per barel untuk Desember 2026.

Untuk 2027, Goldman Sachs memperkirakan harga Brent dan WTI masing-masing berada di level US$80 dan US$75 per barel.

Perubahan proyeksi tersebut didasarkan pada asumsi bahwa gangguan pengiriman di Timur Tengah akan berlanjut hingga 2027.

Pasokan Diesel Global Ikut Tertekan

Bukan hanya minyak mentah yang menghadapi tekanan. Pasar produk olahan minyak, khususnya diesel, juga diperkirakan tetap ketat.

Sejumlah eksekutif senior industri mengatakan pasokan diesel global akan tetap terbatas karena kapasitas pengilangan cadangan yang rendah, larangan Rusia terhadap ekspor, serta mendekatnya periode puncak permintaan selama musim dingin.

Baca Juga: Jaguar Land Rover Pangkas 4.000 Pekerja di Tengah Tekanan Industri Otomotif

Di Amerika Serikat, harga bensin bahkan mencapai rekor tertinggi selama libur akhir pekan Labor Day. Serangan berkelanjutan terhadap infrastruktur kilang dan ancaman baru terhadap pasokan global turut menjaga tekanan terhadap harga bahan bakar.

Harga diesel AS juga mencapai rekor tertinggi pada pekan sebelumnya.

CEO BankPro Paolo Broccardo menilai kondisi pasar produk olahan berpotensi lebih ketat dibandingkan pasar minyak mentah.

"Pasar produk olahan dapat tetap lebih ketat dibandingkan pasar minyak mentah, terutama jika kapasitas kilang dan logistik tetap terbatas dalam jangka waktu yang panjang," kata Broccardo.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa risiko geopolitik tidak hanya berdampak terhadap harga minyak mentah, tetapi juga dapat merambat ke harga produk BBM. Apabila gangguan transportasi dan keterbatasan kapasitas pengolahan berlangsung lama, tekanan terhadap harga bensin dan diesel global berpotensi semakin besar.

Dengan konflik di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, perhatian pasar kini tertuju pada perkembangan di Selat Hormuz, keamanan fasilitas energi Arab Saudi, serta potensi respons lanjutan antara Iran dan Amerika Serikat.

Ketiga faktor tersebut akan menjadi penentu utama arah harga minyak dunia dalam beberapa pekan ke depan.