Harga Minyak Melonjak Setelah Rusia Mengumumkan Pemangkasan Produksi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak naik lebih dari 2% pada hari Jumat dan membukukan kenaikan mingguan lebih dari 8%. Lonjakan harga minyak sepekan terakhir dipicu rencana Rusia untuk mengurangi produksi minyak bulan depan. Rusia berniat mengurangi produksi setelah Barat memberlakukan batasan harga pada minyak mentah dan bahan bakar negara dari Rusia.

Jumat (10/2), harga minyak WTI kontrak Maret 2023 di New York Mercantile Exchange menguat 2,13% ke US$ 79,72 per barel. Dalam sepekan, harga minyak acuan Amerika Serikat (AS) ini melesat 8,62% dari US$ 73,39 per barel.

Sedangkan harga minyak Brent kontrak April 2023 di ICE Futures menguat 2,23% ke US$ 86,39 per barel pada perdagangan kemarin. Dalam sepekan, harga minyak acuan internasional ini menguat 8,07% dari posisi US$ 79,94 per barel di pekan sebelumnya.


Rusia berencana untuk mengurangi produksi minyak mentahnya pada bulan Maret sebesar 500.000 barel per hari. Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak mengatakan, jumlah ini setara sekitar 5% dari produksi.

Baca Juga: Wall Street Mixed, Nasdaq Turun Dipicu Kenaikan Imbal Hasil US Treasury

Negara-negara Barat telah memberlakukan pembatasan harga. Langkah ini merupakan upaya untuk menghentikan pendapatan minyak Rusia sebagai tanggapan atas tindakan negara tersebut di Ukraina. Pemotongan produksi menunjukkan bahwa batasan harga dan larangan Uni Eropa baru-baru ini terhadap produk minyak Rusia, yang mulai berlaku pada 5 Februari, mulai berdampak.

“Sebagian besar analis telah memperkirakan produksi Rusia turun 700.000-900.000 pada tahun 2023,” kata Rebecca Babin, pedagang energi senior di CIBC Private Wealth AS kepada Reuters. Dia menambahkan, kunci minyak mentah untuk keluar dari kisaran perdagangan saat ini adalah pemulihan permintaan China.

Produksi Rusia tahun lalu menentang prediksi penurunan. Tetapi penjualan minyak Rusia akan terbukti lebih sulit menghadapi sanksi baru.

OPEC+ tidak merencanakan tindakan setelah Rusia mengumumkan pengurangan produksi minyak, kata dua delegasi OPEC+ kepada Reuters.

Baca Juga: Ekspansi Jaringan Terus Bergulir, Persaingan SPBU Makin Ketat

"Dalam jangka sangat pendek, (pemotongan produksi Rusia) tidak terlalu berarti karena ada jadwal pemeliharaan kilang yang signifikan mengurangi permintaan hari ini, tetapi seiring kita melangkah maju dan permintaan minyak dunia terus pulih, itu meningkatkan defisit pasokan," kata Andrew Lipow, presiden konsultan Lipow Oil Associates.

Kekhawatiran ekonomi masih menekan harga, dengan lemahnya data permintaan dari China dan kekhawatiran resesi di AS. Yang juga membatasi kenaikan adalah kenaikan klaim pengangguran mingguan AS dan persediaan minyak yang lebih tinggi.

Goldman Sachs menurunkan perkiraan harga Brent 2023 menjadi US$ 92 per barel dari prediksi sebelumnya US$ 98 per barel. Goldman pun menurunkan prediksi harga minyak tahun 2024 menjadi US$ 100 per barel dari $105 per barel.

Pejabat negara OPEC mengatakan kepada Reuters bahwa harga minyak dapat melanjutkan relinya pada tahun 2023 karena permintaan China pulih setelah pembatasan Covid dibatalkan. Di sisi lain, kurangnya investasi membatasi pertumbuhan pasokan. Ada lebih banyak pelaku pasar yang memperkirakan harga minyak bisa kembali ke US$ 100 per barel.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati