KONTAN.CO.ID - NEW DELHI. Harga minyak melanjutkan kenaikannya pada hari ini di tengah kekhawatiran lebih lanjut seputar pembukaan Selat Hormuz, karena Iran, bekerja sama dengan Oman, mengusulkan pelarangan kapal yang dianggap bermusuhan dari selat tersebut dan denda berat bagi mereka yang melanggar aturan yang diusulkan. Jumat (7/8/2026) pukul 14.00 WIB, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Oktober 2026 naik 85 sen, atau 1,03%, menjadi US$ 83,34 per bare. Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman September 2026 naik 52 sen, atau 0,67%, menjadi US$ 77,81 per barel.
Harga minyak berjangka ditutup naik lebih dari US$ 3 per barel pada hari Kamis (6/8/2026) karena Iran meninjau rancangan undang-undang untuk melarang kapal-kapal AS dan Israel memasuki Selat Hormuz, yang biasanya dilalui oleh sekitar seperlima minyak dan gas alam cair dunia sebelum perang dimulai pada akhir Februari.
Baca Juga: Harga Emas Spot Naik Lebih dari 1% pada Jumat (7/8), Selama Sepekan Sudah Melejit 6% Harga turun di awal pekan karena kemungkinan solusi untuk konflik yang sedang berlangsung tampak lebih besar, tetapi patokan Brent menembus US$ 80 pada hari Kamis setelah jatuh di bawah angka tersebut untuk pertama kalinya sejak 13 Juli. Kedua patokan tersebut menuju kerugian mingguan sekitar 8%. Para analis mengatakan peristiwa yang terjadi minggu ini menandakan bahwa permusuhan antara Iran dan AS belum berakhir. Seorang anggota parlemen Iran mengatakan bahwa komite parlemen sedang meninjau rancangan undang-undang pendahuluan untuk melarang kapal-kapal AS, Israel, dan kapal-kapal lain yang dianggap bermusuhan dari Selat Hormuz, dan mendenda pelanggar pembatasan yang diusulkan hingga 20% dari nilai kargo, menurut kantor berita Fars. Harga minyak bereaksi terhadap rancangan rencana Iran yang diterbitkan mengenai kondisi transit Hormuz, kata Lin Ye, wakil presiden pasar komoditas minyak di perusahaan konsultan Rystad Energy. "Itu bukan harga pasar yang mencerminkan kesepakatan yang buruk, tetapi harga yang mencerminkan konfirmasi bahwa apa pun yang muncul adalah koridor yang dikelola/bersyarat, bukan 'pemulihan arus normal'," tambah Ye. Iran meminta biaya antara 5% dan 7% dari harga kargo dari kapal-kapal yang menggunakan selat tersebut, menurut pejabat senior Iran tersebut. Oman sedang membahas biaya sekitar 3%, sementara Washington menginginkan tidak ada biaya sama sekali. Empat sumber industri mengatakan kesepakatan yang diusulkan tidak mudah diwujudkan karena sanksi AS dan klausul asuransi yang membatasi pembayaran apa pun.
Baca Juga: Ekspor China Tumbuh 23,9% pada Juli 2026, Kinerja Produk AI Jadi Penopang Meskipun sinyal minggu ini tentang potensi kesepakatan "telah menyebabkan gejolak pasar yang hebat", untuk saat ini pasar "masih belum tahu apa yang perlu terjadi agar kesepakatan dapat tercapai", kata Vandana Hari, pendiri penyedia analisis pasar minyak Vanda Insights. Sementara itu, Houthi Yaman mengatakan mereka melakukan serangan rudal dan drone terhadap "pasukan Saudi" di Marib dan Hadramout di Yaman pada hari Kamis. Presiden AS Donald Trump pada hari Kamis mengatakan kepada wartawan bahwa ia percaya perang akan segera berakhir.