Harga Minyak Mentah Berpotensi Melemah, Cermati Level Support Ini



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kembali menjadi perhatian pasar di tengah perkembangan negosiasi Amerika Serikat (AS) dan Iran serta kondisi pasokan minyak global.

Pada awal perdagangan pekan ini, harga minyak menguat lebih dari 1% setelah AS dan Iran belum mencapai kesepakatan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. Namun, dari sisi teknikal, pergerakan WTI masih menghadapi potensi tekanan bearish.

Melansir Trading Economics pada Senin (28/9/2026) pukul 15.25 WIB, harga minyak mentah WTI bertengger di US$ 94,8 per barel. Nilai ini meningkat 2,76% secara harian dan melonjak 2,60% sepekan terakhir. Sejalan dengan itu harga minyak Brent juga sama-sama menguat, yakni di level US$ 107,4 naik 2,9% dalam 24 jam terakhir dan 7% sepekan terakhir.


Baca Juga: Harga Minyak Naik 2% Lebih, Damai AS-Iran Masih Buntu

Meski harga minyak mentah di atas masih melanjutkan tren penguatan, Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, mencermati harga minyak WTI pada timeframe Daily mulai memasuki tren bearish baru setelah belum mampu ditutup di atas zona resistance sebelumnya pada level 96.78-99.05.

“Kegagalan harga untuk menembus dan bertahan di atas area tersebut menjadi sinyal bahwa tekanan jual masih berpotensi mendominasi pergerakan WTI,” terang Geraldo dalam risetnya, Senin (28/9/2026).

Maka, kondisi tersebut membuka peluang bagi harga minyak untuk melanjutkan pelemahan menuju zona support terdekat di 88.70-86.54. Level tersebut menjadi area yang perlu diperhatikan apabila tekanan bearish kembali menguat dalam jangka pendek.

Meski demikian, pergerakan minyak tetap sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Harga minyak pada Senin, 28 September 2026, naik lebih dari 1% setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal perdamaian Iran yang berkaitan dengan penyelesaian konflik dan pembukaan kembali Selat Hormuz. 

Kondisi tersebut mempertahankan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dari kawasan tersebut

Di sisi lain, terdapat faktor yang dapat membatasi kenaikan harga minyak. Arus ekspor minyak Timur Tengah mulai mengalami pemulihan setelah sebelumnya terganggu akibat konflik. Reuters mencatat peningkatan aliran minyak melalui kawasan tersebut, termasuk pemulihan aktivitas ekspor Arab Saudi, sehingga perbaikan pasokan dapat mengurangi tekanan kenaikan harga apabila berlangsung lebih jauh.

“Kondisi tersebut membuat pasar minyak berada di antara dua sentimen yang berlawanan. Risiko gangguan pasokan akibat konflik dan ketidakpastian Selat Hormuz memberikan dukungan terhadap harga WTI, sedangkan pemulihan arus minyak berpotensi menahan penguatan lebih lanjut,” jelasnya.

Dengan demikian, Geraldo menyebut, prediksi harga minyak WTI hari ini masih menghadapi risiko pelemahan dari perspektif teknikal. Namun, perubahan signifikan pada kondisi geopolitik atau gangguan baru terhadap pasokan dapat meningkatkan volatilitas dan mengubah dinamika pergerakan minyak.

Baca Juga: Penjualan Aspirasi Hidup (ACES) Naik 6,7% per Agustus 2026, Cek Rekomendasi Analis

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News