Harga minyak mentah melesat 1%, WTI ditutup di atas US$ 70 per barel



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak mentah lanjutkan reli dan ditutup menguat di atas 1% untuk berada di level tertinggi dalam lebih dari dua tahun setelah diplomat tinggi Amerika Serikat (AS) mengatakan bahwa jika  kesepakatan nuklir dengan Iran kembali tercapai, ratusan sanksi AS terhadap Teheran akan tetap berlaku.

Hal tersebut diartikan pasar bahwa pasokan tambahan dari minyak Iran tidak akan segera berlaku di pasar global.

Selasa (8/6), harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Agustus 2021 ditutup naik 73 sen, atau 1% ke level US$ 72,22 per barel, tertinggi sejak Mei 2019. 


Serupa, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Juli 2021 naik 82 sen atau 1,2% menjadi US$ 70,05 per barel. Itu jadi level tertinggi WTI sejak Oktober 2018 .

Baca Juga: Harga minyak mentah turun lagi, WTI ke US$ 68,79 per barel

Pergerakan harga minyak mentah memang mendapat pengaruh dari pernyataan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken terkait kesepakatan nuklir Iran. "Saya akan mengantisipasi bahwa bahkan jika kembali mematuhi JCPOA (Rencana Aksi Komprehensif Gabungan 2015), ratusan sanksi akan tetap berlaku, termasuk sanksi yang dijatuhkan oleh pemerintahan Trump," kata dia.

"Blinken melihat realitas situasi dan mengatakan bahkan jika kita mendapatkan kesepakatan, masih ada jalan panjang," ungkap Phil Flynn, analis senior Price Futures Group di Chicago. 

"Semua orang yang mengharapkan banjir minyak akan kecewa," lanjut Flynn. 

AS mengatakan kepada Iran pada hari Selasa bahwa mereka harus membiarkan badan atom PBB terus memantau kegiatannya, sebagaimana tercantum dalam perjanjian yang telah diperpanjang hingga 24 Juni, atau menempatkan pembicaraan yang lebih luas tentang menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran dalam bahaya.

Hambatan untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran tetap muncul menjelang pembicaraan yang akan dilanjutkan minggu ini antara Teheran dan kekuatan dunia, ujar empat diplomat, dua pejabat Iran dan dua analis kepada Reuters.

Editor: Anna Suci Perwitasari