Harga minyak mentah melorot, ini pemicunya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah dunia kembali tergerus. Analis mencatat pelemahan harga minyak disebabkan banyak faktor negatif global ditambah kenaikan cadangan minyak Amerika Serikat.

Mengutip Bloomberg, pukul 20.30 WIB, harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Mei 2019 berada di level US$ 58,48 per barel. Angka ini turun 1,68% dari harga sebelumnya US$ 59,41 per barel. 

Analis Asia Tradepoint Futures Deddy Yusuf Siregar mengatakan pelemahan harga minyak datang dari beberapa sentimen negatif global. Seperti pembicaraan perang dagang oleh perwakilan China dan Amerika Serikat yang terus memicu kekhawatiran pelaku pasar.


"Saat ini pelaku pasar dalam tahap menunggu kabar kepastian dari negosiasi perwakilan AS-China terkait perang dagang. Nah, kalaupun ada kesepakatan atau tidak, hal ini yang memicu harga minyak naik atau tidak," ujar Deddy kepada Kontan.co.id, Kamis (28/3).

Karenanya, Deddy pesimistis harga minyak bisa tembus diatas level US$ 60,00 per barel. Ditambah persoalan Brexit yang masih memanas. 

Sebelumnya, kawasan Uni Eropa memperpanjang batas waktu yang tadinya ditetapkan 29 Maret menjadi 12 April. Sampai hari itu, parlemen Inggris sudah harus menetapkan apakah mereka menerima Perjanjian Brexit atau ingin perpanjangan lagi. Jika tidak, maka proses keluarnya Inggris dari uni Eropa akan resmi berlaku tanggal 12 April tanpa kesepakatan sama sekali (no-deal-Brexit).

Selain itu, sentimen ancaman resesi di kawasan Amerika Serikat juga melemahkan harga minyak. Deddy menilai bahwa dovish-nya The Fed sebenarnya menjadi kabar yang baik bagi pergerakan mata uang emerging market. Namun, tidak bagi harga minyak dunia. 

Karena kalau indeks dollar melemah, maka perekonomian AS ditakutkan masuk dalam tahap resesi dan berpengaruh negatif ke harga minyak mentah dunia. "Berbagai sentimen negatif di global akan menjadikan harga minyak naik turun. Dan ditakutkan kalau harga minyak naik tidak wajar membuat pelaku pasar menahan diri," sebut Deddy lagi.

Sementara indikator yang turut mendukung pelemahan harga minyak kata Deddy juga datang dari persediaan minyak mentah AS yang naik menjadi 2,8 juta barel. "Rilis naiknya persediaan minyak bertolak belakang dengan pemangkasan minyak OPEC. Dan turut melemahkan harga minyak WTI," tandasnya.

Besok, Deddy melihat harga minyak akan bergantung pada rilis aktivitas sumur pengeboran minyak. Dari sisi teknikal, tampak pola triple po dimana harga berada di bawah garis MA 200 namun diatas MA 50 dan 100. Kemudian indikator stochastic berada di area 63, MACS positif dan RSI di area 61 yang menunjukkan potensi pelemahan untuk jangka panjang.

Dia memproyeksikan besok harga minyak bergerak di rentang US$ 58,42-US$ 59,80 per barel. Dan sepekan harga minyak ada di level US$ 58,00-US$ 60,35 per barel. Deddy merekomendasikan wait and see.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi