KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah dunia masih berpotensi melanjutkan penguatan meski sudah bertengger di atas US$ 100 per barel. Melansir Trading Economics pada Senin (14/9/2026) pukul 16.40 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$ 103,5 per barel atau naik 3,5% sehari dan melonjak 11,3% sepekan. Kemudian minyak Brent dihargai US$ 108,5 per barel, mengalami kenaikan 3,7% secara harian dan 11,7% sepekan. Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures, Brahmantya Himawan mengatakan, harga minyak saat ini masih dalam tren bullish dan belum mencapai puncaknya, meski harga telah berada di atas US$ 100 per barel.
Menurut dia, penggerak utama harga minyak saat ini masih berasal dari eskalasi geopolitik dan meningkatnya risiko distribusi energi di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Suahasil Jadi Menkeu, Pasar Saham Menanti Reset Kebijakan Fiskal Risiko tersebut tidak hanya berpusat di Selat Hormuz. Gangguan pada East-West Pipeline Arab Saudi serta meningkatnya ancaman di Bab el-Mandeb dan Laut Merah turut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kelancaran distribusi energi global. "Artinya, pasar sekarang memasukkan war premium sekaligus logistics premium, sehingga ruang kenaikan masih terbuka," ujar Brahmantya kepada Kontan, Senin (14/9/2026). Brahmantya bilang, penundaan pembicaraan terkait Hormuz juga mengurangi harapan terjadinya deeskalasi dalam waktu dekat. Kondisi tersebut membuat risiko gangguan pasokan dan distribusi minyak masih menjadi perhatian utama pelaku pasar. Di tengah lonjakan harga minyak, kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) menjelang rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 16 September 2026 juga menjadi sentimen penting. Brahmantya menjelaskan, kenaikan harga minyak dapat meningkatkan risiko inflasi. Kondisi ini berpotensi membuat The Fed mempertahankan sikap hawkish atau bahkan menaikkan suku bunga. Jika The Fed semakin hawkish, dolar AS dan yield berpotensi menguat. Kondisi tersebut dapat menekan pertumbuhan ekonomi dan permintaan energi sehingga menjadi faktor penahan bagi harga minyak. "Jika The Fed semakin hawkish, USD dan yield berpotensi menguat, sementara pertumbuhan dan permintaan energi bisa tertekan. Ini menjadi faktor penahan minyak. Namun untuk jangka pendek, saya melihat risiko geopolitik dan pasokan masih lebih dominan daripada faktor The Fed," jelasnya. Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, Brahmantya melihat ruang kenaikan harga minyak masih terbuka hingga akhir 2026. Ia memproyeksikan harga WTI berada di kisaran US$ 100-US$ 120 per barel, sedangkan Brent berpotensi bergerak di kisaran US$ 110-US$ 125 per barel.
Baca Juga: Harga Minyak Terus Naik, WTI Berpotensi Tembus US$ 117 dan Brent US$ 120 Bahkan, peluang Brent menembus US$ 120-US$ 125 per barel semakin terbuka apabila gangguan di Selat Hormuz berlanjut atau konflik semakin mengganggu jalur alternatif distribusi minyak. Sebaliknya, risiko terbesar terhadap skenario bullish tersebut adalah terjadinya deeskalasi antara Amerika Serikat dan Iran serta normalisasi kembali kondisi di Selat Hormuz. Jika hal tersebut terjadi, war premium berpotensi turun dengan cepat dan mendorong harga minyak terkoreksi. Bagi Indonesia, harga minyak yang bertahan di atas US$ 100 per barel menjadi tantangan tersendiri. Sebagai negara net importer minyak, kenaikan harga minyak dunia akan meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk membiayai impor energi.
Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah. Selain itu, kenaikan harga energi juga dapat mendorong inflasi impor dan meningkatkan beban subsidi serta kompensasi energi dalam APBN. Brahmantya menyebut, persoalan utama bagi Indonesia bukan hanya seberapa tinggi harga minyak naik, melainkan berapa lama harga tersebut bertahan di atas US$ 100 per barel. "Semakin lama bertahan, semakin besar tekanan terhadap rupiah, inflasi, daya beli dan fiskal," pungkasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News