Harga minyak mentah mulai melemah usai cetak rekor harga tertinggi



KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Harga minyak mulai melemah setelah mencapai tertinggi baru dalam beberapa tahun pada awal perdagangan hari ini. Kini investor menanti hasil pembicaraan antara Iran dan kekuatan dunia mengenai kesepakatan nuklir yang diharapkan dapat meningkatkan pasokan minyak mentah global.

Senin (7/6) pukul 09.45 WIB, harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman Agustus 2021 turun 0,4%, menjadi US$ 71,63 per barel. Di awal perdagangan sesi Asia, Brent sempat mencapai US$ 72,27 per barel, tertinggi sejak Mei 2019. 

Setali tiga uang, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Juli 2021 menyentuh US$ 70 untuk pertama kalinya sejak Oktober 2018, namun kemudian melemah 0,3% ke US$ 69,43 per barel. 


Investor mungkin telah menjual beberapa kontrak untuk mengambil keuntungan ketika WTI mencapai US$ 70, kata Avtar Sandu, Senior Commodities Manager Phillips Futures di Singapura.

Baca Juga: Harga minyak capai rekor tertinggi, WTI sentuh US$ 70 per barel pada pagi ini (7/6)

"Perhatian utama saat ini adalah tentang berapa barel minyak Iran yang kembali ke pasar, tetapi saya tidak berpikir akan ada kesepakatan sebelum pemilihan presiden Iran," tambahnya.

Kedua kontrak telah meningkat selama dua minggu terakhir karena permintaan bahan bakar rebound di Amerika Serikat (AS) dan Eropa setelah pemerintah melonggarkan pembatasan Covid-19 menjelang perjalanan musim panas.

Permintaan minyak global diperkirakan akan melebihi pasokan di paruh kedua meskipun ada pelonggaran bertahap pengurangan pasokan oleh produsen OPEC+, kata para analis.

Perlambatan dalam pembicaraan antara Iran dan kekuatan global dalam menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015 dan penurunan jumlah rig AS juga mendukung harga minyak.

Iran dan kekuatan global akan memasuki putaran kelima pembicaraan pada 10 Juni di Wina yang dapat mencakup Washington mencabut sanksi ekonomi terhadap ekspor minyak Iran.

Sementara utusan Uni Eropa yang mengoordinasikan negosiasi mengatakan dia yakin kesepakatan akan dicapai pada pembicaraan minggu ini, diplomat senior lainnya mengatakan keputusan paling sulit masih ada di depan.

Baca Juga: Harga minyak pekan ini melonjak hampir 5%

Analis memperkirakan Iran, yang mengadakan pemilihan presiden pada 18 Juni, untuk meningkatkan produksinya sebesar 500.000 hingga 1 juta barel per hari setelah sanksi dicabut.

Sementara itu, Negeri Paman Sam, jumlah rig minyak dan gas alam yang beroperasi turun untuk pertama kalinya dalam enam minggu karena pertumbuhan pengeboran melambat.

Selanjutnya: Bursa Asia menguat di pagi ini usai data tenaga kerja AS yang meleset dari proyeksi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari