Harga Minyak Mentah Naik, Bos SKK Migas: Dampaknya Positif ke Hulu Migas



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak dunia yang bergerak naik dinilai membawa sentimen positif bagi industri hulu minyak dan gas (migas) di Indonesia. Kenaikan harga ini berpotensi meningkatkan pendapatan sektor hulu sekaligus mendorong investasi serta aktivitas eksplorasi dan produksi migas.

Menurut Kepala SKK Migas Djoko Siswanto, kenaikan harga minyak dunia secara langsung berdampak positif terhadap kinerja sektor hulu migas.

“Dari hulu akan ada pendapatan meningkat, harganya naik. kalo dari hilir saya gak tahu. di hulu bagus,” ujar Djoko di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (6/3/2026).


Baca Juga: PhotoBebaz Raih Pendanaan, Targetkan Ekspansi Jadi 28 Titik Booth Photobox pada 2026

Kamis (5/3/2026), harga minyak Brent naik US$1,67 atau 2,05% menjadi US$83,07 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$1,94 atau 2,6% ke level US$76,60 per barel.

Level harga tersebut sudah berada di atas asumsi Indonesia Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 yang dipatok sebesar US$ 70 per barel.

Dampak ke Jasa Penunjang Migas

Kenaikan harga minyak dunia juga dinilai dapat membuka peluang peningkatan aktivitas eksplorasi dan produksi migas di dalam negeri. Kondisi ini berpotensi meningkatkan permintaan jasa penunjang migas, yang menjadi lini bisnis PT Elnusa Tbk (ELSA).

Direktur Keuangan Elnusa Nelwin Aldriansyah mengatakan, kenaikan harga minyak dapat membuat sejumlah lapangan migas yang sebelumnya kurang ekonomis menjadi lebih layak untuk dikembangkan.

Menurut dia, ketika harga minyak berada di bawah US$ 60 per barel, sebagian proyek eksplorasi maupun pengembangan lapangan di Indonesia dinilai belum ekonomis karena biaya produksi atau lifting cost yang relatif lebih tinggi dibandingkan kawasan Timur Tengah.

“Dengan kenaikan harga minyak dan apabila harga ini bisa bertahan pada level yang baru, maka akan membuka peluang eksplorasi maupun eksploitasi di lapangan-lapangan yang sebelumnya tergolong marginal,” kata Nelwin di Jakarta, Kamis (6/3/2026).

Jika aktivitas eksplorasi dan produksi meningkat, kebutuhan terhadap jasa penunjang migas seperti pengeboran (drilling) dan survei seismik juga berpotensi meningkat. Hal ini diharapkan berdampak positif bagi kegiatan usaha Elnusa yang bergerak di bidang jasa hulu migas, mulai dari survei seismik, pengeboran hingga layanan pendukung operasi produksi.

Di sisi lain, Nelwin juga menyoroti dinamika geopolitik global yang memengaruhi pasar energi, termasuk kabar blokade transportasi minyak oleh Iran di Selat Hormuz.

Menurut dia, situasi tersebut menjadi tantangan bagi ketahanan energi Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak. Saat ini, cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional diperkirakan hanya cukup sekitar 20–23 hari.

Karena itu, Nelwin berharap kondisi harga minyak saat ini dapat mendorong pemerintah untuk memperkuat insentif peningkatan produksi minyak domestik.

Direktur Utama Elnusa Litta Indriya Ariesca menambahkan, peningkatan aktivitas sektor migas juga diharapkan mendukung target kemandirian energi nasional.

Ia menyebut Elnusa akan terus mendukung upaya tersebut sekaligus meningkatkan efisiensi internal perusahaan.

Baca Juga: Primaya Hospital (PRAY) Lanjut Ekspansi untuk Menyehatkan Kinerja pada 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News