Harga minyak mentah naik, sumbang inflasi 2018 0,4%



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Standard Chartered Bank Indonesia melihat inflasi tahun ini berpeluang lebih tinggi dari tahun 2017. Hal ini menjadi salah satu hal yang perlu menjadi perhatian, lantaran akan mempengaruhi konsumsi rumah tangga.

Kepala Ekonom Standard Chartered Indonesia Aldian Taloputra mengatakan, ada dua risiko yang bisa menekan inflasi lebih tinggi di tahun ini. Pertama, harga minyak mentah yang lebih tinggi. Kedua, cuaca yang kembali ke kondisi normal setelah pada tahun lalu yang mengalami curah hujan cukup tinggi, yang berisiko menekan harga pangan.

Aldian memproyeksi, harga minyak mentah dunia tahun ini akan naik di level US$ 61 per barel. Dengan demikian, harga ritel bahan bakar minyak (BBM) saat ini berada di 5%-10% di bawah harga keekonomiannya. Oleh karena itu, harga BBM berpotensi meningkat.


Namun pihaknya melihat pemerintah akan menjaga daya beli masyarakat di tahun ini. Caranya, dengan menaikkan harga pertalite dan pertamax. Sementara harga premium dan solar tetap.

Maka, "Ada tambahan inflasi sebesar 0,4% dari 3,6% di tahun 2017," kata Aldian dalam konferensi pers di Hotel Mandarin Oriental, Senin (21/1).

Lebih lanjut menurutnya, kembali normalnya cuaca di tahun ini berpotensi menekan harga bahan pangan. Oleh karena itu, pemerintah di awal tahun sibuk menjaga stabilitas harga tersebut.

"Pemerintah menjaga makanan jadi top priority. Ketika harga beras naik sedikit, langsung impor. Jadi net inflasi di kisaran segitu. Kami tidak melihat inflasi naik tajam," tambah dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto