Harga Minyak Menuju Kenaikan Empat Minggu Berturut-turut



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak naik pada hari Jumat (14/4) dan menuju kenaikan keempat minggu berturut-turut setelah pengawas energi Barat memperkirakan permintaan global akan naik ke rekor tertinggi tahun ini disokong pemulihan konsumsi China.

Badan Energi Internasional atawa International Energy Agency (IEA) juga memperingatkan bahwa pengurangan produksi yang dalam yang diumumkan oleh produsen OPEC+ dapat memperburuk defisit pasokan minyak dan merugikan konsumen.

Pada hari ini pukul 22.44 WIB, harga minyak Brent berjangka menguat 0,35% menjadi US$ 86,39 per barel. Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik 0,61%, menjadi US$ 82,66.


Kedua kontrak ditetapkan untuk membukukan kenaikan empat minggu berturut-turut di tengah meredanya kekhawatiran atas krisis perbankan bulan lalu dan keputusan mengejutkan minggu lalu oleh OPEC+ untuk memotong output lebih lanjut. Dalam sepekan, harga minyak Brent menguat 1,49% dan minyak WTI naik 2,42%.

Baca Juga: Harga CPO Berkonsolidasi Setelah Sentuh Level Terendah 2023, Ini Prediksi ke Depannya

Dalam laporan bulanannya pada hari Jumat, IEA mengatakan permintaan minyak dunia akan tumbuh sebesar 2 juta barel per hari pada tahun 2023 ke rekor 101,9 juta barel per hari. Prediksi terbaru ini sebagian besar didorong oleh konsumsi China yang lebih kuat setelah pencabutan pembatasan Covid.

Permintaan bahan bakar jet menyumbang 57% dari kenaikan 2023, menurut prediksi IEA.

Tetapi OPEC pada hari Kamis menandai risiko penurunan permintaan minyak musim panas sebagai bagian dari latar belakang keputusan untuk memangkas produksi lebih lanjut 1,16 juta barel per hari.

"Harga minyak terangkat oleh tanda-tanda peningkatan permintaan di China yang membantu mengimbangi peringatan dari OPEC," kata Fiona Cincotta, analis City Index, dalam sebuah catatan yang dikutip Reuters.

Baca Juga: Harga Minyak Tergelincir pada Jumat (14/4), Brent ke US$85,99 dan WTI ke US$82,11

IEA mengatakan keputusan OPEC+ dapat merugikan konsumen dan pemulihan ekonomi global. Konsumen yang dihadapkan pada kenaikan harga kebutuhan pokok sekarang harus membagi anggaran mereka lebih tipis lagi.

"Ini menambah buruk bagi pemulihan dan pertumbuhan ekonomi," ujar IEA.

IEA memperkirakan pasokan minyak global turun 400.000 barel per hari pada akhir tahun, mengutip perkiraan peningkatan produksi 1 juta barel per hari dari luar OPEC+ yang dimulai pada bulan Maret versus penurunan 1,4 juta barel per hari dari blok produsen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati