Harga Minyak Meroket, Blokade Iran Picu Kenaikan Beruntun!



KONTAN.CO.ID - BEIJING. Harga minyak kembali menguat, memperpanjang kenaikan selama beberapa hari, karena laporan bahwa Amerika Serikat (AS) akan memperpanjang blokade pelabuhan Iran, yang kemungkinan akan memperpanjang gangguan pasokan dari wilayah penghasil minyak utama di Timur Tengah. 

Presiden AS Donald Trump juga sudah menginstruksikan para ajudannya untuk bersiap menghadapi blokade Iran yang berkepanjangan, demikian laporan Wall Street Journal pada Selasa (28/4/2026) malam, mengutip pejabat AS.

Trump akan memilih untuk terus menekan ekonomi Iran dan ekspor minyaknya dengan mencegah pengiriman ke dan dari pelabuhannya, demikian laporan tersebut. 


Rabu (29/4/2026) pukul 09.00 WIB, harga minyak mentah berjangka Brent untuk kontrak pengiriman Juni 2026 naik 52 sen atau 0,47% menjadi US$ 111,78 per barel, naik untuk hari kedelapan berturut-turut. Kontrak Juni berakhir pada hari Kamis dan kontrak Juli yang lebih aktif berada di posisi US$ 104,84 per barel, naik 0,4%.

Baca Juga: Eropa Memanas Ekstrem, 95% Wilayah Catat Suhu di Atas Normal pada 2025

Sejalan, harga minyak berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Juni 2026 menguat 57 sen atau 0,57% ke US$ 100,50 per barel. Di sesi sebelumnya, harga minyak WTI melesat 3,7% dan terus naik selama tujuh dari delapan hari terakhir.

"Kenaikan harga minyak baru-baru ini didorong oleh blokade Selat. Jika Trump siap memperpanjang blokade, gangguan pasokan akan semakin memburuk dan terus mendorong harga minyak lebih tinggi," kata Yang An, analis di Haitong Futures.

Meskipun ada gencatan senjata dalam perang AS-Israel dengan Iran, konflik tetap buntu sementara kedua pihak berupaya untuk mengakhiri pertempuran secara resmi, dengan Iran menutup jalur pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur bagi sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair global, dan AS memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran.

AS mendesak diakhirinya apa yang diklaimnya sebagai program senjata nuklir Iran, sementara Iran menuntut beberapa bentuk ganti rugi dari babak pertempuran terbaru, pelonggaran sanksi ekonomi, dan beberapa bentuk kendali atas Selat Hormuz. 

Penutupan Selat Hormuz terus mendorong penarikan dari persediaan global, dengan sumber-sumber pasar mengatakan pada Selasa malam bahwa American Petroleum Institute melaporkan persediaan minyak mentah AS turun untuk minggu kedua berturut-turut.

Baca Juga: Rupiah Dibuka Melemah ke Rp 17.270 Per Dolar AS Hari Ini (29/4), Asia Bervariasi

Menurut sumber, stok minyak mentah turun sebesar 1,79 juta barel pada pekan yang berakhir 24 April. Persediaan bensin turun sebesar 8,47 juta barel, sementara persediaan distilat turun sebesar 2,60 juta barel.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News