KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Menteri Keuangan dari negara-negara yang tergabung dalam Kelompok Tujuh (G7) tengah membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak secara bersama-sama pada hari Senin (09/03/2026). Melansir
Bloomberg, dalam laporan pertama kali yang diungkap
Financial Times (FT), pertemuan tersebut mengatakan AS mendukung gagasan pelepasan cadangan minyak secara bersama-sama. Setiap tindakan akan dilakukan dalam koordinasi dengan Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA). Meski begitu, sumber yang mengetahui masalah ini memperingatkan bahwa belum ada keputusan yang diambil dari pertemuan tersebut.
Baca Juga: Pelayaran Nasional Ekalya (ELPI) Bidik Pendapatan Tumbuh 30% pada 2026 Lebih lanjut, FT mengutip satu orang sumber yang mengatakan bahwa beberapa pejabat AS percaya bahwa pelepasan bersama dalam kisaran 300 juta hingga 400 juta barel minyak, atau sekitar 25% hingga 30% dari 1,2 miliar barel cadangan, sebagai langkah yang tepat. Adapun, perang di Timur Tengah dinilai tengah menghambat aliran minyak dari kawasan tersebut dan menyebabkan harga melonjak. Pertemuan tersebut, yang akan berlangsung sekitar pukul 13:30 CET, diprakarsai oleh Prancis, Prancis saat ini memegang kepresidenan di G-7. Anggota G7 antara lain adalah: Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat, ditambah Uni Eropa. Pengurangan stok strategis secara terkoordinasi hanya pernah dilakukan lima kali sebelumnya, dua kali sebagai respons terhadap invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022. Sebelum itu, cadangan diakses untuk mengatasi gangguan pasokan di Libya, setelah Badai Katrina dan selama Perang Teluk pertama. Minyak mentah Brent melonjak hingga hampir US$ 120 per barel pada hari Senin, naik dari sekitar US$ 72 sebelum perang, karena Selat Hormuz tetap tertutup, menghentikan aliran ekspor dari produsen Teluk Persia. Beberapa perusahaan pengeboran besar termasuk Uni Emirat Arab dan Irak telah terpaksa mengurangi produksi karena kurangnya penyimpanan, sementara Arab Saudi berupaya keras untuk mengalihkan kargo ke Laut Merah. Beberapa negara di benua Eropa khawatir AS juga akan mendorong pelonggaran sanksi yang dikenakan pada minyak Rusia karena perang melawan Ukraina, tepat berlangsung ketika ekonomi Moskow menunjukkan tanda-tanda tekanan yang parah. AS telah memberikan pengecualian untuk memungkinkan India membeli minyak Rusia yang sudah berada di laut dan memberi sinyal bahwa lebih banyak sanksi dapat dicabut. Meski begitu, AS belum secara jelas memberi sinyal niatnya kepada sekutu Eropa dalam beberapa hari terakhir.
Baca Juga: Harga Minyak Sentuh US$ 119 Per Barel, Beban Subsidi Energi Berpotensi Membengkak Konsumen di seluruh dunia sudah merasakan dampak dari gangguan di Timur Tengah, dengan antrean panjang terbentuk di SPBU dan lonjakan harga bahan bakar jet yang mendorong kenaikan biaya tiket pesawat. Banyak kilang minyak Asia yang bergantung pada minyak Timur Tengah terpaksa memangkas tingkat operasinya karena mereka kesulitan menemukan alternatif pasokan dari Teluk Persia. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News