KONTAN.CO.ID - Harga minyak naik sekitar 3% pada Selasa (21/4/2026) setelah Iran mengatakan masih belum memutuskan apakah akan menghadiri perundingan damai dengan Amerika Serikat. Padahal, hanya satu hari tersisa sebelum gencatan senjata berakhir dalam perang Iran. Presiden AS Donald Trump mengatakan ia berharap bisa mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang, tetapi ia tidak ingin memperpanjang gencatan senjata. Ia juga mengatakan militer AS “siap bergerak” jika negosiasi tidak berhasil. Melansir
Reuters, harga kontrak berjangka Brent naik US$ 3 atau 3,1% menjadi US$ 98,48 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$ 2,52 atau 2,8% menjadi US$ 92,13 per barel.
Harga sempat naik sekitar 5% sebelum kemudian memangkas kenaikan setelah laporan bahwa Wakil Presiden AS JD Vance, yang dijadwalkan memimpin delegasi AS, belum berangkat menuju Islamabad hingga tengah hari Selasa. Lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz, yang biasanya menangani sekitar 20% pasokan minyak dunia dan gas alam cair (LNG), masih hampir terhenti pada Selasa, dengan hanya tiga kapal yang melewati jalur tersebut dalam 24 jam terakhir, menurut data pelayaran. “Pada titik ini Anda sudah kehilangan satu miliar barel, bahkan jika konflik ini selesai besok. Jika berlangsung sebulan lagi, bisa 1,5 miliar barel,” kata Saad Rahim, kepala ekonom di perusahaan perdagangan komoditas Trafigura, dalam FT Global Commodities Summit.
Baca Juga: Analisis OCBC: Emas 'Wait-and-See' Jelang Akhir Gencatan Senjata Di kawasan Timur Tengah lainnya, militer Israel mengatakan Hezbollah menembakkan roket ke pasukan Israel di Lebanon selatan, menuduh kelompok yang didukung Iran itu melanggar gencatan senjata menjelang pembicaraan yang dimediasi AS antara Israel dan Lebanon pekan ini. Hezbollah belum memberikan komentar. Uni Eropa akan memberikan panduan kepada maskapai penerbangan terkait penanganan masalah seperti slot bandara, hak penumpang, dan kewajiban layanan publik jika terjadi kekurangan bahan bakar jet akibat perang Iran, kata pejabat transportasi blok tersebut. Menteri Ekonomi Jerman Katherina Reiche mengatakan pasokan bahan bakar jet tidak dalam bahaya karena kilang minyak menyesuaikan diri dengan permintaan yang meningkat, tetapi pemerintah tetap memantau situasi. Suplai minyak Rusia Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan bahwa pipa minyak Druzhba yang mengalirkan minyak Rusia ke Eropa siap kembali beroperasi, yang menandakan Ukraina kini berharap paket bantuan senilai 90 miliar euro (US$ 106 miliar) bisa dicairkan. Namun, tiga sumber industri mengatakan Rusia akan menghentikan ekspor minyak dari Kazakhstan ke Jerman melalui pipa Druzhba mulai 1 Mei. Kementerian energi Rusia belum menanggapi permintaan komentar. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan ia tidak mengetahui rencana penghentian tersebut. Di Jerman, ekonomi terbesar Eropa, sentimen investor turun ke level terendah dalam lebih dari tiga tahun pada April karena dunia usaha mulai merasakan dampak ekonomi perang Iran yang meluas jauh melampaui kenaikan harga, menurut lembaga riset ZEW. Di Amerika Serikat, penjualan ritel meningkat lebih dari perkiraan pada Maret karena perang Iran mendorong kenaikan harga bensin dan menyebabkan lonjakan rekor penerimaan di SPBU, sementara pengembalian pajak turut menopang belanja di sektor lain.
Tonton: Selat Hormuz Ditutup Lagi! Harga Minyak Dunia Langsung Melejit Lebih dari 7% Menanti data stok minyak AS Kenaikan harga minyak juga terjadi saat pasar menunggu arah dari laporan persediaan mingguan dari American Petroleum Institute (API) pada Selasa dan Energy Information Administration (EIA) AS pada Rabu. Analis memperkirakan perusahaan energi menarik 1,2 juta barel minyak dari persediaan pada pekan yang berakhir 17 April. Jika benar, ini akan menjadi pertama kalinya penarikan stok terjadi dua minggu berturut-turut sejak Februari. Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun lalu terjadi kenaikan 0,2 juta barel, sementara rata-rata penurunan dalam lima tahun terakhir (2021–2025) adalah 3,7 juta barel. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News