KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Harga minyak naik lebih dari 1,5% dalam perdagangan Asia pada Kamis (23/7/2026) dan berada di level tertinggi dalam lebih dari enam minggu, karena Houthi Yaman menargetkan kapal tanker minyak di Laut Merah dan Amerika Serikat meluncurkan putaran serangan baru terhadap Iran. Mengutip
Reuters, harga minyak mentah Brent naik US$ 2,2 atau 2,3%, menjadi US$ 96,27 pada pukul 03.27 GMT, tertinggi sejak 8 Juni, setelah ditutup naik lebih dari US$ 3 pada US$ 94,07 di sesi sebelumnya, sedikit di bawah level tertinggi enam minggu. Minyak mentah
West Texas Intermediate AS naik US$ 1,65, atau 1,9%, menjadi US$ 88,48, setelah kenaikan 3% pada hari Rabu.
Baca Juga: Yuan China Bertahan Menguat untuk Pekan Keempat, PBOC Terus Topang Nilai Tukar Garda Revolusi Iran mengatakan sebuah kapal tanker minyak terbakar setelah terjadi ledakan saat mencoba mengikuti rute yang mereka gambarkan sebagai rute yang dipenuhi ranjau, di selatan Selat Hormuz, sementara dua kapal lainnya telah berbalik arah. Dalam sebuah pernyataan, Garda Revolusi Iran mengatakan bahwa selat tersebut berada di bawah kendali mereka dan "sepenuhnya tertutup" sementara tindakan AS terus berlanjut di wilayah tersebut, memperingatkan bahwa tidak ada kapal tanker yang diizinkan masuk atau keluar tanpa koordinasi dengan Iran. Selain konflik yang kembali memanas terkait kendali atas jalur air utama tersebut, Houthi yang bersekutu dengan Iran telah membuka front baru dengan mengancam akan menargetkan kapal-kapal yang membawa minyak Saudi di Selat Bab el-Mandeb dan melancarkan blokade angkatan laut terhadap Arab Saudi. "Harga minyak menghadapi risiko langka dari gangguan simultan di Bab el-Mandeb dan Selat Hormuz," kata Priyanka Sachdeva, analis pasar senior di Phillip Nova. "Premi geopolitik telah kembali, tetapi reli (harga) yang berkelanjutan akan membutuhkan bukti gangguan pengiriman yang berkepanjangan atau gangguan pasokan yang signifikan."
Baca Juga: Intel dan AMD Meneken Kesepakatan Jangka Panjang CPU Server dengan Klien China Kelompok Houthi mengatakan mereka telah melakukan operasi militer yang menargetkan dua kapal tanker minyak Saudi, dan laporan keamanan maritim menyebutkan salah satu kapal yang diidentifikasi oleh kelompok tersebut, kapal tanker berbendera Saudi Encelia, telah terkena serangan di Laut Merah. Kelompok Houthi mengatakan mereka telah memaksa sekitar 10 kapal untuk mundur dan kembali setelah memperingatkan kapal-kapal agar tidak berlayar ke pelabuhan Saudi.
Reuters belum dapat segera memverifikasi laporan ini. Blokade angkatan laut Houthi terhadap Arab Saudi di Laut Merah mengancam akan mengganggu pasokan energi global di luar Teluk, sementara juru bicara Garda Revolusi Iran juga memperingatkan perusahaan pelayaran bahwa "jalur selatan Selat Hormuz telah dipasangi ranjau" dalam sebuah postingan di X. Ancaman baru terhadap jalur Laut Merah dapat mengganggu hingga 5 juta barel per hari pasokan minyak, dan jalur utama untuk minyak Teluk yang melewati Selat Hormuz, kata Saul Kavonic, kepala penelitian energi di MST Marquee. Militer AS mengatakan telah menyelesaikan serangan malam ke-12 berturut-turut terhadap Iran beberapa jam setelah Presiden Donald Trump bersumpah untuk menghancurkan jembatan atau pembangkit listrik Iran setiap kali Iran menembak kapal di Selat Hormuz, meningkatkan taruhan dalam perang dengan Iran.