KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia menguat pada Kamis (5/3/2026) di tengah kekhawatiran berkepanjangan atas penutupan Selat Hormuz. Ketika perang Amerika Serikat (AS) –Iran menghambat aliran vital minyak dan gas dari Timur Tengah serta membatasi produksi di sejumlah fasilitas. Melansir Reuters, minyak mentah Brent naik US$1,67 atau 2,05% ke level US$83,07 per barel pada pukul 01.41 GMT.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat US$1,94 atau 2,60% menjadi US$76,60 per barel.
Baca Juga: China Percepat Kemandirian Teknologi, Dorong Industri AI dan Robot Humanoid Konflik antara AS dan Iran meluas pada Rabu setelah serangan AS menghantam kapal perang Iran di lepas pantai Sri Lanka. Di saat yang sama, senator Partai Republik di Senat AS mendukung kampanye militer Presiden Donald Trump terhadap Iran. Mereka menolak resolusi bipartisan yang bertujuan menghentikan perang udara dan mewajibkan otorisasi Kongres untuk setiap aksi militer terhadap Iran. Di kawasan Timur Tengah, Irak produsen minyak terbesar kedua di Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) memangkas produksi hampir 1,5 juta barel per hari karena keterbatasan penyimpanan dan jalur ekspor, menurut pejabat kepada Reuters. Sementara itu, Qatar, produsen gas alam cair (LNG) terbesar di Teluk, mendeklarasikan force majeure atas ekspor gasnya pada Rabu.
Baca Juga: China Naikkan Kurs Referensi Yuan ke Level Tertinggi 34 Bulan Sumber menyebutkan normalisasi volume produksi kemungkinan membutuhkan waktu setidaknya satu bulan. Pengapalan melalui Selat Hormuz jalur penting yang menyalurkan hampir seperlima konsumsi energi global nyaris terhenti selama lima hari terakhir seiring perang melawan Iran dan aksi balasan Teheran. Otoritas perdagangan maritim Inggris melaporkan adanya ledakan besar yang terdengar dan terlihat oleh nakhoda kapal tanker yang berlabuh sekitar 30 mil laut di tenggara Pelabuhan Mubarak Al Kabeer, Kuwait. Sebuah kapal kecil kemudian terlihat meninggalkan area tersebut. Menurut catatan klien dari J.P. Morgan, Iran sejauh ini menahan diri untuk tidak menargetkan sebagian besar infrastruktur energi kritis, meski risiko pelayaran tetap sangat tinggi. Bank investasi tersebut memperkirakan sekitar 329 kapal tanker minyak tertahan di kawasan Teluk. “Kapastitas penyimpanan di negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk dan harga energi saat ini menjadi faktor pembatas lamanya kampanye militer AS,” tulis J.P. Morgan.
Baca Juga: Harga Emas Spot Naik Kamis (5/3), Didorong Permintaan Aset Aman dan Pelemahan Dolar Dewan Kerja Sama Teluk merujuk pada aliansi politik dan ekonomi yang terdiri dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Oman, dan Bahrain. J.P. Morgan menilai sebagian besar ladang minyak dapat kembali beroperasi dalam hitungan hari, dengan kapasitas penuh biasanya pulih dalam dua hingga tiga pekan. Meski operator perlu membangun kembali tekanan reservoir secara bertahap terutama di Irak yang sangat bergantung pada injeksi air kendala utama saat ini dinilai lebih bersifat logistik ketimbang geologi.