KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga minyak mentah dunia kembali menguat pada perdagangan Senin (31/8/2026) setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan terhadap sebuah pulau di Iran yang berada di kawasan Selat Hormuz. Serangan tersebut memicu aksi balasan dari Teheran dan meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak global. Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent untuk kontrak berjangka naik US$ 1,77 atau sekitar 2% menjadi US$ 89,87 per barel pada pukul 07.33 GMT (14:33). Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS meningkat US$ 1,45 atau 1,74% menjadi US$ 84,85 per barel. Kenaikan harga minyak terjadi setelah pasukan AS pada Minggu (30/8) menyerang dua peluncur di Pulau Larak, Iran, yang berada di Selat Hormuz. Serangan tersebut menjadi serangan AS yang diketahui terhadap Iran sejak akhir Juli.
Iran kemudian merespons dengan menyerang dua pangkalan udara AS di Yordania, menurut laporan media Iran yang mengutip Korps Garda Revolusi Islam Iran. Presiden AS Donald Trump juga mengatakan melalui unggahan singkat di media sosial pada Minggu bahwa pusat energi Iran, Pulau Kharg, sedang "dihancurkan hingga berkeping-keping". Namun, belum terdapat bukti bahwa pulau tersebut benar-benar diserang.
Baca Juga: Optimisme Pebisnis Korea Selatan Meningkat, Indeks Investasi Peralatan Melesat Unggahan Trump tersebut juga disertai video yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI) dan tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai serangan yang dimaksud. Iran membantah adanya serangan terhadap Pulau Kharg dan menyatakan bahwa aktivitas operasional minyak di wilayah tersebut tetap berjalan.
Konflik AS-Iran Tekan Prospek Pembukaan Selat Hormuz
Upaya negosiasi untuk mengakhiri konflik AS-Iran masih menemui jalan buntu. Di saat yang sama, para mediator terus berupaya membuka kembali akses melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelumnya menjadi salah satu rute utama perdagangan minyak dunia. Sebelum konflik dimulai pada akhir Februari, sekitar seperlima pasokan minyak dunia mengalir melalui Selat Hormuz. Karena itu, gangguan terhadap jalur pelayaran tersebut berpotensi memberikan tekanan signifikan terhadap harga energi global. Kepala Riset Energi DBS Suvro Sarkar menilai eskalasi konflik kemungkinan masih dapat dikendalikan, meskipun ketidakpastian mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz terus menjadi perhatian pasar. "Kami melihat lebih banyak peluang terjadinya konfrontasi yang masih terkendali dibandingkan eskalasi konflik yang berkelanjutan. Hal yang terus terdampak setiap kali terjadi gejolak adalah waktu yang dibutuhkan untuk membuka kembali Selat Hormuz," kata Sarkar.
Baca Juga: AS Gempur Peluncur Roket Iran, Teheran Balas Tembak Rudal ke Yordania Menurut dia, sebelumnya terdapat harapan bahwa pembicaraan mengenai kesepakatan antara AS dan Iran dapat kembali dilakukan pada akhir kuartal III 2026. Namun, perkembangan terbaru membuat kemungkinan tersebut semakin kecil. "Kami sebelumnya berharap bahwa negosiasi kesepakatan antara AS dan Iran dapat kembali dilakukan pada akhir kuartal III, tetapi sekarang hal tersebut terlihat semakin tidak mungkin. Oleh karena itu, kami memperkirakan harga minyak akan tetap bergerak dalam kisaran US$ 85-US$ 95 per barel kecuali muncul kejelasan lebih lanjut mengenai situasi di Selat Hormuz," ujarnya.
Kapal Komoditas yang Melintas Hormuz Menurun
Ketegangan di Selat Hormuz juga mulai terlihat dari aktivitas pelayaran. Data pengiriman menunjukkan jumlah kapal komoditas yang terlihat melintas di selat tersebut selama akhir pekan turun menjadi hanya sekitar lima kapal per hari. Penurunan tersebut mencerminkan sikap hati-hati perusahaan pelayaran yang khawatir kapal mereka menjadi sasaran serangan di tengah konflik yang belum mereda. United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) pada Minggu juga melaporkan bahwa sebuah kapal tanker terkena proyektil ketika berlayar memasuki Selat Hormuz pada Sabtu. Kondisi tersebut menambah kekhawatiran pelaku pasar terhadap kelancaran distribusi minyak mentah melalui salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia. Selain ancaman terhadap pelayaran, tekanan terhadap Iran juga berpotensi meningkat. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kepada Reuters pada Minggu bahwa AS kemungkinan akan memberlakukan sanksi sekunder baru terhadap Iran setiap pekan.
Baca Juga: Otomotif Jepang Berjaya di Dalam Negeri, Tapi Hadapi Tantangan Berat di Global Sanksi tersebut berpotensi semakin membatasi aktivitas perdagangan Iran dan menambah ketidakpastian terhadap pasokan energi global.
Harga Minyak Masih Berpotensi Tertekan
Meskipun harga minyak menguat pada awal perdagangan Senin, Brent dan WTI diperkirakan tetap mencatat penurunan tipis sepanjang Agustus. Keduanya juga telah merosot lebih dari 4% pada pekan lalu, sekaligus menjadi penurunan mingguan pertama dalam tiga pekan.
Pergerakan harga minyak selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan konflik AS-Iran dan kondisi pelayaran di Selat Hormuz. Di sisi lain, Presiden Trump mengatakan pada Minggu bahwa minyak yang diperoleh dari kesepakatan baru dengan Venezuela akan digunakan untuk mengisi kembali cadangan minyak strategis AS atau Strategic Petroleum Reserve (SPR). Cadangan minyak strategis AS tersebut saat ini telah turun mendekati level terendah dalam 44 tahun. Rencana pengisian kembali SPR berpotensi menjadi salah satu faktor yang turut diperhatikan pasar minyak global di tengah meningkatnya risiko geopolitik. Dengan konflik AS-Iran memasuki bulan keenam dan akses Selat Hormuz masih menghadapi gangguan, pasar energi global kini menghadapi kombinasi risiko geopolitik, ketidakpastian pasokan, serta potensi perubahan kebijakan sanksi AS terhadap Iran.