KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga minyak dunia kembali menguat sekitar 2% pada Kamis (26/3), didorong kekhawatiran bahwa konflik berkepanjangan di Timur Tengah akan semakin mengganggu arus pasokan energi global. Berdasarkan laporan Reuters, harga minyak Brent naik US$2,08 atau 2,03% menjadi US$104,30 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$1,93 atau 2,14% ke level US$92,25 per barel. Kenaikan ini terjadi setelah kedua acuan tersebut sempat anjlok lebih dari 2% pada sesi perdagangan sebelumnya.
Ketegangan Iran-AS Tekan Prospek Pasar
Iran dilaporkan masih meninjau proposal Amerika Serikat untuk mengakhiri perang, namun menegaskan tidak berniat melakukan perundingan untuk menghentikan konflik di Timur Tengah.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump disebut akan meningkatkan tekanan terhadap Iran jika Teheran tidak mengakui kekalahan militer. Pernyataan ini disampaikan oleh juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt.
Baca Juga: Dampak Perang Iran: Korsel Naikkan Batas Harga BBM dan Suntik Likuiditas Obligasi Ekonom senior NLI Research Institute, Tsuyoshi Ueno, menilai optimisme terhadap tercapainya gencatan senjata mulai memudar. Ia menambahkan bahwa standar tuntutan Washington yang tinggi membuat harga minyak rentan terhadap volatilitas, tergantung pada perkembangan negosiasi maupun aksi militer kedua pihak.
Proposal AS dan Risiko Eskalasi
Proposal 15 poin yang diajukan AS—melalui jalur diplomatik dengan Pakistan—mencakup penghentian program pengayaan uranium Iran, pembatasan program rudal balistik, serta penghentian dukungan terhadap sekutu regional. Namun, belum ada indikasi bahwa proposal tersebut akan diterima, sehingga risiko eskalasi konflik tetap tinggi dan menjadi faktor utama penggerak harga minyak.
Gangguan Pasokan Global Kian Parah
Konflik yang berlangsung telah hampir menghentikan pengiriman energi melalui Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia. International Energy Agency bahkan menyebut kondisi ini sebagai gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah. Sebagai langkah antisipasi, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi meminta kepala IEA Fatih Birol untuk mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak secara terkoordinasi guna meredam gejolak pasar.
Baca Juga: Lonjakan Harga BBM Dorong Penjualan Mobil Listrik Bekas di Eropa Tekanan Tambahan dari Rusia dan Irak
Selain konflik di Timur Tengah, pasokan minyak global juga tertekan oleh gangguan di negara produsen lain. Sekitar 40% kapasitas ekspor minyak Rusia dilaporkan terhenti akibat serangan drone Ukraina, gangguan pipa, serta penyitaan tanker. Di Irak, produksi minyak juga menurun seiring kapasitas penyimpanan yang hampir penuh, menambah tekanan terhadap pasokan global.
Stok Minyak AS Melonjak
Sementara itu, data menunjukkan persediaan minyak mentah AS meningkat 6,9 juta barel menjadi 456,2 juta barel pada pekan yang berakhir 20 Maret—level tertinggi sejak Juni 2024. Angka ini jauh melampaui ekspektasi analis yang sebelumnya memperkirakan kenaikan hanya sekitar 477.000 barel. Kombinasi ketegangan geopolitik, gangguan pasokan, dan dinamika stok minyak membuat pasar energi global tetap berada dalam kondisi volatil, dengan risiko kenaikan harga yang masih terbuka dalam jangka pendek.