KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga minyak dunia melonjak sekitar 2% pada perdagangan Jumat (15/5/2026), didorong pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait Iran serta meningkatnya kekhawatiran pasar atas gangguan pelayaran di Selat Hormuz. Kenaikan harga terjadi setelah Trump menyatakan dirinya dan Presiden China Xi Jinping sepakat bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Di saat bersamaan, ketegangan di jalur pelayaran utama dunia itu masih menjadi perhatian meski Teheran menyebut sekitar 30 kapal telah melintasi Selat Hormuz. Berdasarkan data perdagangan, kontrak berjangka minyak mentah Brent naik US$ 1,77 atau 1,67% menjadi US$ 107,49 per barel pada pukul 06.42 GMT. Harga Brent sempat menyentuh level tertinggi sesi di US$ 107,99 per barel.
Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat US$ 2,13 atau 2,11% ke level US$ 103,30 per barel.
Baca Juga: BP Pertimbangkan Jual Sebagian Aset Gas di Mesir, Fokus Kurangi Utang Secara mingguan, harga Brent telah naik hampir 6%, sedangkan WTI melonjak lebih dari 7%. Penguatan tersebut dipicu ketidakpastian terkait gencatan senjata yang rapuh dalam konflik Iran. Trump mengatakan kesabarannya terhadap Iran mulai habis. Ia juga mengungkapkan telah mencapai kesepakatan dengan Xi bahwa Teheran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan harus membuka kembali akses Selat Hormuz. Meski demikian, Xi tidak memberikan komentar langsung terkait pembicaraannya dengan Trump mengenai Iran. Namun, Kementerian Luar Negeri China merilis pernyataan terkait situasi tersebut. "Konflik ini, yang seharusnya tidak pernah terjadi, tidak memiliki alasan untuk terus berlanjut," demikian pernyataan kementerian tersebut. Pendiri lembaga analisis pasar minyak Vanda Insights, Vandana Hari, mengatakan fokus pasar kini kembali tertuju pada kebuntuan diplomatik dan risiko blokade Selat Hormuz. “Dengan tidak adanya terobosan terkait Iran dalam pertemuan Beijing, fokus pasar kembali pada kebuntuan dan blokade selat, dengan risiko eskalasi militer baru,” ujarnya. Pasar juga mencermati hasil lain dari pertemuan tersebut. Trump menyebut China tertarik membeli minyak dari Amerika Serikat. Di tengah situasi itu, insiden keamanan di sekitar Selat Hormuz terus terjadi. Sebuah kapal dilaporkan disita personel Iran di lepas pantai Uni Emirat Arab pada Kamis dan diarahkan menuju perairan Iran.
Baca Juga: TSMC Berencana Menjual 152 Juta Saham di Perusahaan Pembuat Chip Vanguard Selain itu, kapal kargo India yang mengangkut ternak dari Afrika menuju Uni Emirat Arab dilaporkan tenggelam di perairan Oman pada Rabu. Gedung Putih menyatakan Trump dan Xi sepakat pentingnya menjaga jalur pelayaran tersebut tetap terbuka demi kelancaran perdagangan global.
Di sisi lain, Garda Revolusi Iran menyebut sebanyak 30 kapal telah melintasi Selat Hormuz sejak Rabu malam. Jumlah tersebut masih jauh di bawah rata-rata normal sebelum perang yang mencapai sekitar 140 kapal per hari, namun dinilai menunjukkan adanya peningkatan aktivitas pelayaran. Analis Haitong Futures, Yang An, menilai faktor utama yang masih menopang harga minyak adalah ketatnya pasokan global. “Harga minyak sempat berfluktuasi beberapa kali kemarin tetapi tetap ditutup mendekati level tertinggi harian,” katanya. Menurutnya, mulai adanya kapal yang melintas di Selat Hormuz memang sedikit meredakan kekhawatiran pasar, namun belum cukup kuat untuk mengubah tren kenaikan yang didorong kondisi pasokan ketat.