Harga Minyak Naik 3 Hari Beruntun Akibat Konflik Timur Tengah, Saham AI Tetap Menguat



KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia melanjutkan penguatannya untuk hari ketiga berturut-turut pada perdagangan Rabu (3/6/2026), setelah ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat menyusul mandeknya pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Di saat yang sama, reli saham-saham terkait kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) tetap berlanjut dan menopang penguatan pasar saham global meskipun ketidakpastian geopolitik meningkat.

Baca Juga: Indeks Nikkei Capai 68.000 untuk Pertama Kalinya, Saham AI dan Semikonduktor Melonjak


Melansir Reuters, kontrak berjangka minyak mentah AS melonjak sekitar 2% menjadi US$ 95,40 per barel.

Sementara itu, dolar AS sempat menyentuh level psikologis 160 yen sebelum tertahan karena pelaku pasar mulai mewaspadai potensi intervensi pemerintah Jepang untuk menopang mata uangnya.

Di pasar saham, kontrak berjangka indeks S&P 500 bergerak melemah tipis. Namun, sentimen positif terhadap sektor AI terus mendorong kenaikan bursa Asia, dengan indeks saham di Taiwan dan Jepang mencetak rekor tertinggi baru. Pasar saham Korea Selatan tutup karena libur.

Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan Iran meluncurkan rudal ke Kuwait dan Bahrain. Serangan tersebut dilaporkan gagal mencapai sasaran atau berhasil digagalkan.

Baca Juga: Tanker Minyak dan LNG Mulai Melintas, Harapan Pembukaan Selat Hormuz Menguat

Sebagai balasan, pasukan AS melancarkan serangan terhadap Pulau Qeshm yang terletak di Selat Hormuz.

Di sisi lain, Garda Revolusi Iran mengklaim telah menyerang markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di kawasan Teluk.

Padahal, pekan lalu Iran dan Amerika Serikat sempat menyatakan telah mencapai kesepakatan awal untuk menghentikan konflik.

Namun hingga kini kedua pihak belum menandatangani perjanjian resmi sehingga ketidakpastian kembali meningkat.

Kepala Riset Pepperstone Chris Weston mengatakan, pasar sebelumnya optimistis bahwa kedua negara akan mencapai kesepakatan.

"Pasar pekan lalu percaya bahwa kesepakatan akan segera tercapai. Namun kini situasinya terlihat lebih rapuh dan sebagian pelaku pasar mulai membatalkan posisi yang dibangun berdasarkan harapan tersebut," ujarnya.

Baca Juga: PMI Jasa China Naik ke 54,4 pada Mei 2026, Permintaan Domestik dan Ekspor Menguat

Di pasar aset digital, Bitcoin anjlok hampir 10% dalam tiga sesi terakhir dan menyentuh level terendah dalam dua bulan di US$ 66.123.

Meski demikian, tema investasi AI tampaknya tetap kebal terhadap sentimen perang. Bursa Wall Street berhasil mencatat kenaikan tipis pada perdagangan sebelumnya dengan saham-saham AI sebagai motor penggerak utama.

Salah satu pemicunya adalah lonjakan saham Marvell Technology yang melesat 32,5% ke rekor tertinggi setelah CEO NVIDIA, Jensen Huang, menyebut perusahaan tersebut berpotensi menjadi perusahaan bernilai US$ 1 triliun dalam ajang Computex di Taiwan.

Sementara itu, perusahaan antariksa SpaceX dikabarkan berencana menghimpun dana hingga US$ 75 miliar melalui penawaran saham perdana (IPO) pekan depan dengan menawarkan 555,6 juta saham pada harga target US$ 135 per saham.

Baca Juga: Ekonomi Australia Melambat, Tumbuh 0,3% pada Kuartal I 2026

Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun relatif stabil di level 4,46%.

Data ekonomi AS yang dirilis sebelumnya menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan pada April meningkat paling besar dalam lima tahun terakhir.

Data tersebut mengindikasikan pasar tenaga kerja masih kuat dan mengurangi urgensi bagi Federal Reserve untuk menurunkan suku bunga.

Investor kini menantikan data aktivitas sektor jasa AS (ISM Services) yang akan dirilis Rabu serta laporan ketenagakerjaan nonfarm payrolls pada Jumat mendatang.

Strategis mata uang Asia Pasifik Corpay Peter Dragicevich menilai, momentum ekonomi AS yang membaik pada awal 2026 berpotensi menghasilkan data tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan pasar.

Jika hal tersebut terjadi, ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve dapat semakin menguat dan mendukung penguatan dolar AS.

Baca Juga: Yen Tembus Level Kritis 160 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah Perkuat Greenback

Saat ini pasar memperkirakan kenaikan suku bunga The Fed sekitar 18 basis poin hingga akhir tahun.

Sementara itu, pasar hampir sepenuhnya memperhitungkan kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Eropa (ECB) pekan depan dan memberikan peluang sekitar 75% untuk kenaikan suku bunga di Jepang pada Juni.

Di pasar valuta asing, euro diperdagangkan di level US$ 1,1627, sedangkan dolar AS berada tepat di bawah level 160 yen pada posisi 159,86 yen.

Dari Australia, data terbaru menunjukkan pertumbuhan ekonomi melambat pada kuartal pertama 2026. Meski investasi pusat data meningkat tajam, lonjakan impor membatasi pertumbuhan ekonomi. Dolar Australia relatif stabil di level US$ 0,7177.