Harga Minyak Naik 3% Setelah Serangan Infrastruktur Energi Arab Saudi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah dunia kembali melonjak pada perdagangan Senin (14/9/2026), setelah serangkaian serangan terhadap infrastruktur energi dan fasilitas sipil Arab Saudi meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan global.

Kenaikan harga minyak juga dipicu serangan Iran terhadap kapal di kawasan Teluk serta penghentian sementara operasional pipa minyak utama Arab Saudi. Kondisi tersebut memperbesar risiko gangguan distribusi minyak melalui sejumlah jalur strategis di kawasan Timur Tengah.

Mengutip Reuters, kontrak berjangka minyak Brent naik US$2,93 atau 2,8% menjadi US$107,54 per barel pada pukul 07.00 GMT (14:00 WIB). Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat US$2,88 atau 2,9% menjadi US$102,93 per barel.


Ahli strategi komoditas ING mengatakan kenaikan harga minyak terjadi setelah intensitas serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi meningkat, termasuk terhadap pipa East-West yang menjadi salah satu jalur penting ekspor minyak negara tersebut.

Baca Juga: Frasers Naikkan Saham Hugo Boss di Atas 50%, Chairman Siap Mundur

"Ini menyusul peningkatan serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi, termasuk penargetan pipa East-West yang sangat penting," kata ahli strategi komoditas ING.

Namun, ING menyebutkan tingkat kerusakan yang ditimbulkan masih belum jelas. Pasar juga masih menunggu kepastian mengenai berapa lama pipa tersebut harus berhenti beroperasi.

Pipa minyak Arab Saudi ditutup sementara

Pejabat Arab Saudi mengatakan pipa minyak East-West untuk sementara ditutup setelah serangan pesawat nirawak. Pipa tersebut memiliki peran strategis karena memungkinkan Arab Saudi mengalihkan sebagian ekspor minyaknya tanpa harus melewati Selat Hormuz.

Penghentian operasional pipa tersebut berpotensi mengancam pasokan minyak global hingga sekitar 4%.

Pipa East-West menghubungkan wilayah produksi minyak Arab Saudi dengan pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Jalur tersebut menjadi alternatif penting bagi Arab Saudi untuk menghindari Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur perdagangan minyak paling strategis di dunia.

Dengan pipa tersebut tidak beroperasi, persediaan minyak di Pelabuhan Yanbu diperkirakan hanya cukup untuk memenuhi ekspor selama lima hingga tujuh hari.

Perkiraan tersebut disampaikan oleh tiga sumber industri yang mengetahui aktivitas ekspor minyak Arab Saudi.

Serangan meluas ke fasilitas sipil

Gangguan terhadap infrastruktur minyak terjadi bersamaan dengan meningkatnya serangan di wilayah Arab Saudi.

Media pemerintah Arab Saudi pada Minggu (13/9/2026) merilis rekaman video yang memperlihatkan kerusakan sejumlah rumah dan sebuah masjid di Provinsi Jazan, Arab Saudi bagian selatan.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Makin Panas, Rupiah dan Mata Uang Asia Ikut Tertekan

Kerusakan tersebut disebut pemerintah Arab Saudi sebagai dampak serangan kelompok Houthi. Kelompok yang bersekutu dengan Iran tersebut juga menyatakan telah menyerang sebuah pangkalan militer Arab Saudi di provinsi tetangga.

Situasi tersebut semakin meningkatkan kekhawatiran pasar mengenai potensi meluasnya konflik dan dampaknya terhadap produksi maupun distribusi minyak mentah.

Kapal terbakar di Selat Hormuz

Risiko gangguan pasokan juga meningkat setelah sebuah kapal di Selat Hormuz terkena proyektil.

Badan keamanan maritim Inggris, UK Maritime Trade Operations (UKMTO), mengatakan insiden tersebut menyebabkan kebakaran dan memaksa awak kapal melakukan evakuasi.

Iran juga melaporkan bahwa satu orang tewas dan empat awak kapal mengalami luka-luka setelah sebuah kapal komersial Iran terkena serangan di lepas pantai negara tersebut.

Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi perdagangan energi global. Gangguan terhadap pelayaran di kawasan tersebut berpotensi memberikan tekanan signifikan terhadap harga minyak karena sebagian besar ekspor minyak dari negara-negara Teluk melewati jalur tersebut.

Houthi perketat kendali Bab el-Mandeb

Ancaman terhadap jalur distribusi energi juga datang dari kawasan Laut Merah. Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran pada Jumat (11/9/2026) mencapai Pulau Perim, sebuah wilayah strategis yang berada di dekat Selat Bab el-Mandeb.

Pergerakan tersebut dinilai dapat memperkuat kendali Houthi atas salah satu jalur pelayaran penting antara Laut Merah dan Teluk Aden.

Dalam beberapa bulan terakhir, Selat Bab el-Mandeb telah menjadi jalur yang membawa sekitar 4% hingga 5% pasokan minyak global.

Dengan adanya gangguan di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb, pasar minyak menghadapi risiko gangguan pada lebih dari satu jalur utama pengiriman energi.

Harga minyak sudah naik 8% pekan lalu

Kekhawatiran mengenai pasokan minyak telah mendorong reli harga minyak dalam beberapa hari terakhir.

Baca Juga: Zelenskiy Desak Parlemen Segera Copot Jaksa Agung Ukraina, Ini Alasannya

Harga minyak melonjak sekitar 8% pada pekan lalu akibat berbagai gangguan pasokan. Kenaikan tersebut bahkan mendorong harga minyak menembus level US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Juli.

Pergerakan harga minyak selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan konflik serta kemampuan negara-negara produsen untuk mempertahankan kelancaran produksi dan ekspor.

Di tengah meningkatnya ketegangan, peluang diplomatik untuk meredakan situasi juga menghadapi hambatan.

Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi mengatakan melalui X pada Minggu bahwa pertemuan yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada Senin di Oman antara negara-negara Teluk dan Iran untuk membahas keamanan Selat Hormuz telah ditunda.

Sementara itu, belum ada pembicaraan damai langsung mengenai perang yang telah berlangsung selama enam bulan dan dimulai oleh Amerika Serikat serta Israel. Pembicaraan terakhir berlangsung dalam bentuk kesepakatan sementara pada Juni, tetapi kesepakatan tersebut kemudian runtuh.

Pasar kini akan mencermati perkembangan serangan terhadap infrastruktur energi, keamanan jalur pelayaran serta kemungkinan dibukanya kembali jalur diplomasi. Ketiga faktor tersebut berpotensi menentukan arah harga minyak dunia dalam beberapa pekan mendatang.