KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan harga minyak dunia dinilai berpotensi mendorong aktivitas eksplorasi dan produksi migas. Kondisi ini sekaligus membuka peluang peningkatan permintaan jasa penunjang migas yang menjadi lini bisnis PT Elnusa Tbk (ELSA). Mengutip Bloomberg, harga minyak acuan Amerika Serikat West Texas Intermediate (WTI) berada di atas US$ 71 per barel setelah melonjak lebih dari 6% pada perdagangan sebelumnya. Sementara itu, harga minyak Brent ditutup mendekati US$ 78 per barel. Direktur Keuangan Elnusa, Nelwin Aldriansyah mengatakan, kenaikan harga minyak berpotensi membuat sejumlah lapangan migas yang sebelumnya kurang ekonomis menjadi lebih layak untuk dikembangkan.
Menurut dia, pada saat harga minyak berada di bawah US$ 60 per barel, sebagian proyek eksplorasi maupun pengembangan lapangan di Indonesia dinilai belum ekonomis untuk dijalankan. Hal ini terutama karena biaya produksi atau lifting cost di Indonesia relatif lebih tinggi dibandingkan kawasan Timur Tengah. “Dengan kenaikan harga minyak dan apabila harga ini bisa bertahan pada level yang baru, maka akan membuka peluang eksplorasi maupun eksploitasi di lapangan-lapangan yang sebelumnya tergolong marginal,” ujar Nelwin.
Baca Juga: Elnusa (ELSA) Sukses Laksanakan Proyek Survei Seismik 3D Jika aktivitas eksplorasi dan produksi meningkat, kebutuhan terhadap jasa penunjang migas seperti pengeboran (drilling) dan survei seismik juga berpotensi meningkat. Kondisi tersebut diharapkan dapat berdampak positif terhadap peningkatan kegiatan usaha Elnusa, yang selama ini fokus pada jasa hulu migas, termasuk layanan survei seismik, pengeboran, hingga jasa pendukung operasi produksi. Di sisi lain, Nelwin juga menyoroti dinamika geopolitik global yang memengaruhi pasar energi, termasuk kabar blokade transportasi minyak oleh Iran di Selat Hormuz. Situasi tersebut, menurut dia, menjadi tantangan bagi ketahanan energi Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak. Saat ini, cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional diperkirakan hanya cukup sekitar 20 hingga 23 hari. Karena itu, ia berharap kondisi harga minyak saat ini dapat mendorong pemerintah untuk memperkuat insentif peningkatan produksi minyak domestik. “Produksi minyak Indonesia saat ini sekitar 800.000 barel per hari. Dengan berbagai insentif dari pemerintah dan target peningkatan produksi menjadi 1 juta barel per hari dalam beberapa tahun ke depan, harapannya ketergantungan impor minyak bisa berkurang,” kata Nelwin. Jika target peningkatan produksi tersebut tercapai, aktivitas hulu migas di dalam negeri juga akan meningkat dan berpotensi memberikan peluang tambahan bagi bisnis jasa migas, termasuk Elnusa. Direktur Utama Elnusa, Litta Indriya Ariesca menambahkan, peningkatan aktivitas sektor migas juga diharapkan mendukung target kemandirian energi nasional. Ia mengatakan, sebagai perusahaan jasa penunjang migas, Elnusa akan terus mendukung upaya tersebut sekaligus meningkatkan efisiensi internal perusahaan. “Harapannya target kemandirian energi nasional dapat tercapai lebih cepat dengan dukungan berbagai pihak, termasuk perusahaan jasa seperti kami,” ujar Litta.
Baca Juga: Elnusa (ELSA) Pacu Eksplorasi Migas di Indonesia Timur Sebagai tambahan informasi, emiten jasa migas ini mencatatkan kinerja positif sepanjang 2025 di tengah tantangan industri energi yang dipengaruhi fluktuasi harga minyak global. Direktur Utama Elnusa, Litta Indriya Ariesca mengatakan, perusahaan berhasil mencatatkan kinerja yang solid berkat transformasi bisnis yang difokuskan pada penguatan fundamental usaha, efisiensi operasional, serta peningkatan kapabilitas teknologi dan inovasi. “Kami berhasil mendapatkan pencapaian yang alhamdulillah tahun 2025 ini cukup luar biasa dan membanggakan. Jadi transformasi yang kami jalankan berfokus pada penguatan fundamental bisnis, efisiensi operasional, serta peningkatan kapabilitas teknologi dan inovasi, di mana tentunya hasilnya dapat terlihat dari pencapaian 2025 dan juga yang dirasakan oleh pasar,” ujar Litta di Jakarta, Kamis (5/3/2026). Berdasarkan laporan keuangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Elnusa membukukan pendapatan sebesar Rp 14,50 triliun pada 2025, tumbuh 8,29% secara tahunan dibandingkan Rp 13,39 triliun pada 2024. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp 718,41 miliar atau naik tipis 0,66% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 713,67 miliar. Pada kesempatan yang sama, Direktur Keuangan Elnusa, Nelwin Aldriansyah menjelaskan, secara operasional kinerja perusahaan sebenarnya tumbuh lebih tinggi jika tidak memperhitungkan pendapatan non-operasional pada tahun sebelumnya. Pada 2024, Elnusa mencatatkan pendapatan bunga deposito sekitar Rp 69 miliar yang bersifat satu kali (one-off). Jika pendapatan tersebut dikeluarkan dari perhitungan, laba bersih Elnusa pada 2025 sebenarnya meningkat sekitar 11% dari bisnis inti.
Baca Juga: Rig EMR-01 Elnusa Berhasil Terapkan Teknologi CWD di Sumur Migas Samberah Dari sisi profitabilitas operasional, EBITDA Elnusa juga meningkat sekitar 9% dari Rp 1,455 triliun pada 2024 menjadi Rp 1,586 triliun pada 2025. Kontributor terbesar pendapatan Elnusa berasal dari bisnis distribusi dan logistik energi melalui anak usaha Elnusa Petrofin yang menyumbang sekitar 60% dari total pendapatan. Sementara itu, jasa hulu migas berkontribusi sekitar 28% dan layanan penunjang seperti pengolahan data migas serta transportasi maritim menyumbang sekitar 12% dari total pendapatan. Secara basis pelanggan, sekitar 78% pendapatan Elnusa masih berasal dari Pertamina Group, sedangkan kontribusi dari pelanggan pihak ketiga mencapai 22%. Dari sisi keuangan, Elnusa menutup tahun 2025 dengan saldo kas sebesar Rp 2,7 triliun. Posisi ini sedikit turun dibandingkan Rp 2,9 triliun pada akhir 2024 seiring pelunasan sukuk perusahaan senilai Rp 700 miliar yang dilakukan menggunakan kas internal. Selain itu, lembaga pemeringkat Pefindo juga meningkatkan peringkat kredit Elnusa dari sebelumnya AA menjadi AA+ pada Agustus 2025. Peningkatan ini mencerminkan kesehatan keuangan perusahaan yang semakin kuat. Sepanjang 2025, Elnusa merealisasikan belanja modal (capex) sebesar Rp 565 miliar, meningkat dibandingkan capex 2024 yang mencapai Rp 525 miliar. Belanja modal tersebut digunakan antara lain untuk investasi dua unit coiled tubing, dua cementing unit, pengadaan hingga 25.000 unit seismic nodes, pembangunan tangki bahan bakar di Labuan Bajo, serta pembaruan sekitar 80 unit armada mobil tangki.
Baca Juga: Elnusa Umumkan Investasi Peralatan Coiled Tubing, Cementing & Fasilitas Laboratorium Direktur Pengembangan Usaha Elnusa, Arief Prasetyo Handoyo mengatakan, perusahaan juga mencatatkan peningkatan kontrak baru sepanjang 2025, terutama pada segmen distribusi dan logistik energi. Sepanjang 2025, Elnusa memperoleh kontrak baru sekitar Rp 3,5 triliun pada bisnis jasa hulu migas, Rp 2,1 triliun pada jasa penunjang migas, dan Rp 8 triliun pada segmen distribusi dan logistik energi. Memasuki 2026, Elnusa memiliki nilai kontrak yang dapat dikerjakan (order book) sekitar Rp 22 triliun yang terdiri dari Rp 11,9 triliun di segmen jasa hulu migas, Rp 2,8 triliun pada jasa penunjang migas, serta Rp 7,2 triliun pada distribusi dan logistik energi.
Ke depan, Elnusa juga berupaya memperluas pasar di luar Pertamina Group, termasuk menjajaki kerja sama dengan perusahaan migas lain serta masuk ke sektor energi baru seperti panas bumi dan energi terbarukan. “Kita tidak hanya fokus ke Pertamina Group tapi juga kita akan bermain di luar Pertamina Group ya apakah itu masuk ke industri mining atau sama-sama Oil and Gas industry tapi di perusahaan-perusahaan lain seperti Medco, BP, dan sebagainya,” ujar Arief.
Baca Juga: Terapkan Teknologi Ini, Elnusa Catat Peningkatan Produksi 2 Sumur di PHR Zona 1 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News