Harga Minyak Naik, Brent Tembus US$ 94,90 di Tengah Perang AS-Iran



KONTAN.CO.ID - HOUSTON. Harga minyak mentah Brent kembali menguat dalam perdagangan yang bergejolak pada Rabu (2/9/2026). Kenaikan harga minyak dipicu oleh kembali meningkatnya serangan militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berpotensi semakin membatasi pasokan minyak dunia.

Perang AS-Iran kini memasuki bulan ketujuh. Serangkaian serangan terbaru menjadi pertukaran tembakan terbesar antara Teheran dan Washington sejak Juli. Pasukan AS menyerang wilayah pesisir selatan Iran, sementara Iran melancarkan serangan terhadap pangkalan-pangkalan militer AS di sejumlah wilayah.

Mengutip Reuters, harga minyak Brent untuk kontrak berjangka naik 25 sen menjadi US$ 94,90 per barel pada pukul 21.48 WIB. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 10 sen menjadi US$ 90,32 per barel.


Baca Juga: Kapal Tanker Minyak Arab Saudi Diserang Iran di Selat Hormuz, Dua Pelaut Tewas

Pergerakan harga berlangsung sangat volatil. Kedua harga acuan tersebut sempat naik hingga US$ 2 per barel dan turun sekitar US$ 1 per barel sepanjang perdagangan. Kenaikan sebelumnya bahkan sempat membawa Brent dan WTI ke level tertinggi sejak 24 Juli 2026.

Perang yang pecah setelah serangan gabungan AS dan Israel terhadap target-target Iran pada akhir Februari telah menyebabkan Selat Hormuz praktis tertutup bagi lalu lintas normal.

Selat Hormuz merupakan jalur perdagangan energi yang sangat strategis. Sebelum konflik, sekitar seperlima konsumsi minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melewati jalur tersebut.

Senior vice president of trading BOK Financial Dennis Kissler mengatakan, eskalasi konflik memang akan memperlambat pengiriman minyak melalui Selat Hormuz dalam jangka pendek. Namun, pasar juga mulai memperhitungkan bahwa pasokan minyak melalui jalur alternatif pada akhirnya masih dapat masuk ke pasar.

"Meski peningkatan konflik akan memperlambat transit melalui Selat Hormuz dalam jangka pendek, pasar telah menyerap fakta bahwa pasokan minyak melalui jalur alternatif pada akhirnya masih dapat mencapai pasar," ujar Kissler.

Lalu Lintas Selat Hormuz Menurun

Sejumlah negara di dunia juga semakin mengandalkan cadangan minyak mereka untuk menjaga pasokan, sementara stok tersebut terus menipis.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan serangan AS akan semakin membatasi lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz.

Baca Juga: Harga Minyak Melanjutkan Reli Setelah AS dan Iran Saling Lancarkan Serangan Baru

Namun, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan pada Selasa (1/9/2026) bahwa sekitar 17 juta barel minyak melewati Selat Hormuz pada Senin (31/8/2026). Menurutnya, volume tersebut merupakan yang terbesar yang melintasi jalur tersebut sejak perang Iran dimulai.

Data awal perusahaan analisis pelayaran Kpler justru menunjukkan lalu lintas kapal menurun. Hanya empat kapal komoditas yang melewati Selat Hormuz pada Selasa, turun dari 10 kapal sehari sebelumnya dan jauh di bawah rata-rata 10 hari yang mencapai sekitar 13 kapal per hari.

Situasi semakin tegang setelah Garda Revolusi Iran mengatakan dua kapal tanker terkena ranjau laut dan mengalami kerusakan ketika mencoba melewati Selat Hormuz. Pernyataan tersebut disampaikan pada Rabu melalui media pemerintah Iran.

Gangguan terhadap jalur tersebut menjadi perhatian besar pasar karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur utama ekspor energi global. Setiap gangguan berkepanjangan berpotensi memperketat pasokan dan meningkatkan tekanan terhadap harga minyak.

Di tengah gangguan tersebut, Irak justru meningkatkan ekspor minyak pada Agustus. Pengiriman minyak Irak pada September juga diperkirakan kembali meningkat.

Menurut sumber industri dan data pelayaran, keuntungan yang lebih besar serta persetujuan Iran bagi kapal tanker Irak untuk melewati Selat Hormuz telah mendorong pembeli meningkatkan permintaan terhadap minyak Irak.

Dari sisi kebijakan produksi, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) diperkirakan mempertahankan kebijakan produksi minyak untuk Oktober.

Tiga sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa OPEC+ kemungkinan tidak mengubah kebijakan produksinya dalam pertemuan pada Minggu (6/9/2026).

Kelompok produsen minyak tersebut tengah menyelesaikan penghapusan bertahap salah satu lapisan pemangkasan produksi pada bulan ini. Setelah itu, perhatian akan mulai beralih ke negosiasi kuota produksi untuk 2027.

Di sisi lain, Rusia melancarkan serangan besar menggunakan rudal dan drone terhadap infrastruktur energi di wilayah selatan Odesa, Ukraina, pada Rabu dini hari.

Baca Juga: Dolar AS Menguat Rabu (2/9), Harga Minyak Naik di Tengah Eskalasi Konflik AS-Iran

Operator sistem transmisi energi Ukraina, Ukrenergo, mengatakan serangan tersebut menyasar infrastruktur energi di wilayah tersebut.

Sementara itu, dari AS terdapat sentimen positif bagi harga minyak dari sisi permintaan dan pasokan domestik. Data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun 4,5 juta barel pada pekan lalu.

Penurunan tersebut jauh lebih besar dibandingkan perkiraan analis dalam jajak pendapat Reuters yang memproyeksikan penurunan hanya sekitar 1,1 juta barel.

Penurunan persediaan minyak AS tersebut turut memberikan dukungan terhadap harga minyak di tengah meningkatnya risiko gangguan pasokan global akibat konflik AS-Iran.