Harga Minyak Naik di Tengah Ancaman Sanksi Baru AS ke Iran



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah bergerak stabil pada Jumat (21/8/2026), tetapi tetap berada di jalur kenaikan mingguan kedua berturut-turut.

Pasar minyak kembali tertekan oleh ancaman Amerika Serikat (AS) untuk menjatuhkan sanksi ekonomi yang lebih keras terhadap Iran, sementara gangguan pasokan minyak di Timur Tengah belum mereda.

Harga minyak Brent untuk pengiriman Oktober naik 20 sen atau 0,21% menjadi US$ 93,98 per barel pada pukul 13.07 GMT. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS naik 7 sen atau 0,08% ke US$ 86,90 per barel.


Baca Juga: Harga Minyak Naik Seiring Meningkatnya Tensi Perang AS-Iran

Sepanjang pekan ini, Brent telah menguat lebih dari 6,1%, sedangkan WTI naik sekitar 5,3%. Keduanya bahkan sempat menyentuh level tertinggi sejak 24 Juli pada perdagangan sebelumnya.

"AS mengambil sikap sangat tegas terhadap Iran, sehingga harga minyak kembali berada di atas US$90 per barel," kata Soni Kumari, analis ANZ.

Tekanan terhadap Iran meningkat setelah Washington mengancam menjatuhkan sanksi finansial paling berat dalam sejarah.

Ancaman tersebut juga muncul setelah kesepakatan damai AS-Iran berakhir pekan ini tanpa tanda-tanda kedua negara kembali membuka pembicaraan.

Iran merespons ancaman tersebut dengan memperingatkan bahwa tindakan balasan yang dilakukan akan "menghancurkan".

Baca Juga: Harga Minyak Naik, Dipicu Keraguan Perundingan Damai AS-Iran Bisa Akhiri Konflik

Meski begitu, dampak langsung terhadap pasokan minyak Iran diperkirakan masih terbatas karena ekspor negara tersebut sudah tertekan akibat blokade AS. Namun, eskalasi konflik dapat meningkatkan risiko gangguan terhadap pelayaran dan distribusi minyak global.

Risiko tersebut semakin besar karena lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih jauh di bawah kondisi normal.

Pasokan Timur Tengah masih terganggu

Kenaikan harga minyak juga dipicu berlanjutnya pembatasan pasokan dari sejumlah produsen minyak utama Timur Tengah, termasuk Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait.

Penawaran minyak mentah Iran kepada pembeli di China juga dilaporkan menurun. Kondisi ini membuat harga minyak terdorong naik karena blokade AS menghambat pengiriman minyak Iran, sementara ancaman sanksi tambahan masih membayangi pasar.

Data pelacak kapal Kpler menunjukkan hanya tujuh kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada Kamis (20/8). Jumlah tersebut turun sekitar separuh dibandingkan sehari sebelumnya.

Padahal, sebelum serangan AS dan Israel terhadap Iran dimulai pada akhir Februari, Selat Hormuz menjadi jalur penting bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Baca Juga: Harga Minyak Naik, Pasar Ragukan Perundingan Damai AS-Iran Bisa Akhiri Konflik

Hampir enam bulan setelah konflik berlangsung, gangguan arus energi melalui jalur strategis tersebut masih terjadi. Kondisi ini membuat pasar minyak tetap sensitif terhadap setiap perkembangan geopolitik di Timur Tengah.

Di sisi lain, tekanan terhadap pasokan energi juga datang dari konflik Rusia-Ukraina. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan militer Ukraina menyerang kilang minyak Rusia di Kota Perm pada Jumat.

Kilang tersebut berada lebih dari 1.600 kilometer dari perbatasan Ukraina, menunjukkan meluasnya sasaran serangan terhadap infrastruktur energi Rusia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News