Harga Minyak Naik Hari Keempat Selasa (31/3) Pagi, Brent ke US$115,04 per Barel



KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia kembali melanjutkan kenaikan untuk hari keempat berturut-turut pada Selasa (31/3/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan akibat meluasnya konflik di Timur Tengah.

Melansir Reuters, minyak mentah Brent untuk kontrak Mei naik US$2,26 atau 2% ke level US$115,04 per barel. Sementara kontrak Juni yang lebih aktif diperdagangkan berada di posisi US$108,96 per barel.

Adapun minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak Mei melonjak US$3,10 atau 3% menjadi US$105,96 per barel, tertinggi sejak 9 Maret.


Baca Juga: Kapal Tanker Minyak Kuwait Terbakar di Dubai Usai Serangan Iran, Tidak Ada Korban

Lonjakan harga ini didorong oleh terganggunya pasokan global, terutama setelah Iran secara efektif menutup Selat Hormuz—jalur vital yang biasanya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia serta pengiriman gas alam cair (LNG).

Sepanjang Maret, harga Brent tercatat melonjak hingga 59%, mencetak kenaikan bulanan terbesar sepanjang sejarah. Sementara WTI naik 58%, tertinggi sejak Mei 2020.

Ketegangan semakin meningkat setelah kapal tanker minyak Kuwait bermuatan penuh dilaporkan diserang di Pelabuhan Dubai.

Kuwait Petroleum Corporation menyebut kapal Al Salmi, yang mampu mengangkut hingga 2 juta barel minyak, mengalami kerusakan akibat serangan yang diduga dilakukan Iran, sekaligus memicu kekhawatiran potensi tumpahan minyak.

Selain itu, kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman juga meluncurkan serangan rudal ke Israel pada akhir pekan lalu.

Baca Juga: Dolar AS Menguat Tajam di Maret, Yen Pulih Tipis di Tengah Ancaman Intervensi

Aksi ini meningkatkan risiko gangguan di Selat Bab el-Mandeb, jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden serta menjadi rute utama perdagangan antara Asia dan Eropa melalui Terusan Suez.

Analis KCM Trade Tim Waterer menyebut, jika gangguan di Bab el-Mandeb berlanjut bersamaan dengan penutupan Selat Hormuz, maka dunia akan menghadapi krisis “twin chokepoint” yang berpotensi melumpuhkan rantai pasok global.

Di tengah situasi ini, Arab Saudi mulai mengalihkan ekspor minyaknya melalui pelabuhan Laut Merah, Yanbu.

Data Kpler menunjukkan volume pengiriman mencapai 4,658 juta barel per hari pekan lalu, melonjak tajam dibanding rata-rata Januari–Februari yang hanya sekitar 770.000 barel per hari.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan memperingatkan akan menghancurkan fasilitas energi Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz.

Pernyataan ini muncul setelah Iran menolak proposal perdamaian dari AS dan melancarkan serangan rudal ke Israel.

Baca Juga: Trump Bakal Meminta Negara-Negara Arab Membiayai Perang Iran

Meski demikian, Gedung Putih menyatakan bahwa komunikasi dengan Iran masih berlangsung dan menunjukkan kemajuan, meskipun pernyataan publik Teheran dinilai berbeda dengan sikap dalam perundingan tertutup.

Analis Marex, Edward Meir, menilai pasar belum melihat jalan keluar dari konflik ini dalam waktu dekat. Hal ini disebabkan perbedaan posisi yang masih sangat jauh antara pihak-pihak yang bertikai.

Dengan ketidakpastian yang tinggi dan risiko gangguan pasokan yang semakin luas, pasar energi global diperkirakan akan tetap berada dalam tekanan dalam waktu dekat.