KONTAN.CO.ID - Harga minyak mentah naik pada Jumat (12/7), di tengah tanda-tanda meredanya tekanan inflasi di negara konsumen minyak terbesar dunia, Amerika Serikat (AS). Meskipun kontrak berjangka diperkirakan akan mengalami penurunan mingguan. Melansir Reuters, harga minyak mentah Brent naik 33 sen atau 0,4% menjadi US$85,73 per barel pada 0300 GMT. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 46 sen atau 0,6% menjadi US$83,08 per barel. Kedua kontrak minyak naik dalam dua sesi sebelumnya tetapi masih diperkirakan akan mengalami penurunan mingguan.
Minyak Brent diperkirakan akan turun sekitar 1% secara mingguan setelah empat minggu kenaikan. Sedangkan, minyak WTI relatif stabil secara mingguan, dengan penurunan sekitar 0,1%. Baca Juga: Harga Minyak Mentah Naik 2 Sesi Beruntun, Ekspektasi Pemotongan Suku Bunga AS Naik Kepercayaan investor didorong setelah data pada Kamis menunjukkan bahwa harga konsumen AS turun pada bulan Juni, menimbulkan harapan bahwa The Fed akan segera memangkas suku bunga. Suku bunga yang lebih rendah diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang akan membantu meningkatkan konsumsi bahan bakar. Namun, pasar masih menunggu tanda-tanda tindakan yang lebih jelas. Meskipun Ketua The Fed Jerome Powell mengakui tren penurunan tekanan harga yang baru-baru ini terjadi. Powell mengatakan kepada anggota parlemen bahwa lebih banyak data diperlukan untuk memperkuat argumen pemotongan suku bunga. "Angka inflasi AS yang menurun dapat mendukung kasus bagi Fed untuk memulai proses pelonggaran kebijakan lebih awal, tetapi ini juga menambah serangkaian kejutan penurunan dalam data ekonomi AS, yang menunjukkan pelemahan yang jelas dalam ekonomi AS," kata Yeap Jun Rong, market strategist di IG. Indikasi permintaan bahan bakar musim panas yang kuat di AS juga mempertahankan harga tetap tinggi. Permintaan bensin AS berada pada 9,4 juta barel per hari (bpd) pada minggu yang berakhir 5 Juli, tertinggi untuk minggu yang mencakup liburan Hari Kemerdekaan sejak 2019, menurut data pemerintah yang ditunjukkan pada Rabu. Permintaan bahan bakar jet berdasarkan rata-rata empat minggu berada pada level terkuat sejak Januari 2020. Baca Juga: Pertumbuhan Permintaan Minyak Diprediksi Melambat karena Pangsa Pasar China Menyusut