KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan harga minyak global menjadi katalis positif bagi aktivitas hulu minyak dan gas (migas) Indonesia. Harga yang lebih tinggi meningkatkan keekonomian sejumlah proyek, terutama lapangan yang sudah memiliki infrastruktur, sekaligus membuka ruang bagi percepatan pengeboran dan pengembangan lapangan. Melansir
Trading Economics, Selasa (8/9/2026) pukul 20.00 WIB, harga
crude oil West Texas Intermediate (WTI) naik 1,26% secara harian ke level US$92,60 per barel.
Sementara itu, harga minyak Brent menguat 0,42% menjadi US$97,62 per barel.
Baca Juga: Produksi Gula Thailand Turun, Biaya Industri F&B Indonesia Berpotensi Naik Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, kenaikan harga minyak memberikan dampak signifikan terhadap keekonomian proyek hulu migas. Namun, manfaatnya tidak sama untuk seluruh jenis lapangan. "Lapangan tua
onshore dan
brownfield yang infrastrukturnya sudah tersedia biasanya paling cepat merasakan manfaat karena tambahan biaya untuk
workover, well service, atau
enhanced oil recovery relatif kecil, sementara harga jual jauh di atas ICP Juli yang masih US$81,68 per barel," kata Yusuf kepada Kontan.co.id, Selasa (8/9/2026). Menurut dia, kondisi berbeda terjadi pada proyek laut dalam seperti North Hub dan Abadi Masela. Proyek-proyek tersebut membutuhkan belanja modal (capex) besar dan memiliki waktu pengembangan hingga produksi yang panjang. Karena itu, keputusan investasi tidak hanya ditentukan oleh harga minyak spot, tetapi juga mempertimbangkan asumsi harga jangka panjang, kepastian fiskal serta tingkat pengembalian investasi. "Dengan ruang
internal rate of return (IRR) 13%-17%, harga di atas US$90 membuat sejumlah proyek yang sebelumnya borderline menjadi lebih menarik," jelas Yusuf.
Baca Juga: Wahana Interfood (COCO) Gandeng IBM, Modernisasi Manufaktur Kakao dan Cokelat Meski demikian, Yusuf mengingatkan bahwa harga minyak saat ini belum dapat dianggap sebagai harga struktural. Kenaikan masih dipengaruhi premi geopolitik akibat ketegangan di Selat Hormuz dan kawasan Teluk. Dengan demikian, harga minyak tinggi dapat menjadi katalis peningkatan aktivitas hulu dalam jangka pendek, tetapi belum cukup untuk menjamin lonjakan produksi minyak nasional. Investasi Hulu Migas Berpotensi Terakselerasi Yusuf menyebut, SKK Migas menargetkan investasi hulu sekitar US$16 miliar pada 2026, termasuk untuk kegiatan eksplorasi dan pengembangan. Kenaikan harga minyak dapat membuat kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) lebih berani menjalankan program tersebut karena prospek keekonomian proyek menjadi lebih menarik. Namun, peningkatan aktivitas belum otomatis mengerek produksi secara signifikan. Hingga akhir Juli 2026, lifting minyak masih berada di kisaran 578.000 barel per hari, di bawah target 610.000 barel per hari.
Baca Juga: Kinerja Semester I-2026 Tumbuh Double Digit, Medela (MDLA) Tambah Lima Prinsipal Baru Selain itu, produksi dari Blok Cepu dan Rokan masih menghadapi tekanan. Kondisi tersebut membuat kenaikan harga minyak lebih berperan dalam memperbaiki arus kas dan mempercepat keputusan investasi pada proyek yang sudah matang. "Namun, harga tinggi tidak dapat menghentikan penurunan produksi dari lapangan minyak tua atau menghilangkan waktu tunggu antara keputusan investasi dan dimulainya produksi pertama (first oil)," ujar Yusuf. Jasa Pemboran hingga EPC Ikut Terdorong Dari sisi industri pendukung, kenaikan aktivitas hulu migas berpotensi lebih cepat dirasakan oleh sektor jasa pemboran dan perawatan sumur. Yusuf mengatakan, setelah jasa pemboran dan well service, peningkatan permintaan berpotensi merembet ke jasa seismik, geologi dan geofisika, serta fabrikasi dan
engineering, procurement and construction (EPC) lepas pantai. "Ketika operator meningkatkan
workover, fracturing, dan pengeboran sumur pengembangan, permintaan
rig, wireline, coiled tubing, well stimulation, hingga jasa pendukung langsung meningkat," katanya.
Baca Juga: Industri Baja di Banten Masih Beroperasi Normal di Tengah Erupsi Anak Krakatau Efek lanjutan kemudian dapat dirasakan oleh perusahaan fabrikasi, subsea, instalasi lepas pantai, marine support, inspeksi hingga maintenance operasional. Menurut Yusuf, peningkatan penggunaan jasa dan barang produksi dalam negeri akan memperbesar dampak ekonomi dari aktivitas hulu migas. "Ini penting karena semakin tinggi porsi jasa dalam negeri, semakin besar pula multiplier ekonomi yang masuk ke perusahaan nasional," kata dia. Produksi Minyak Belum Langsung Melonjak Yusuf melihat 2026 lebih tepat disebut sebagai tahun konsolidasi bagi industri hulu migas yang mendapat dukungan dari kenaikan harga minyak, bukan sebagai tahun lonjakan produksi. Lifting minyak masih realistis berada di kisaran 600.000 barel hingga 610.000 barel per hari apabila percepatan pengeboran dan optimalisasi lapangan berjalan sesuai rencana.
Baca Juga: BKPM Permudah Investor Asing Masuk Bisnis SPKLU Sementara itu, prospek produksi gas dinilai relatif lebih menjanjikan karena terdapat tambahan produksi dari sejumlah proyek yang mulai beroperasi pada tahun ini. "Namun dampak besar terhadap produksi nasional baru lebih mungkin terlihat mulai 2028 ketika proyek seperti North Hub, South Andaman, dan kemudian Abadi mulai masuk," pungkas Yusuf. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News