Harga Minyak Naik, Kesempatan Perusahaan Migas Genjot Produksi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan minyak dan gas (migas) memiliki kesempatan memanfaatkan momentum peningkatan harga minyak mentah global saat ini untuk mengoptimalkan produksi.

Berdasarkan Trading Economics, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) pada Kamis (10/9/2026) pukul 15.07 WIB tercatat sebesar US$ 96,29 per barel, meningkat 0,41% secara harian dan sudah naik 15,74% secara bulanan.

Di saat yang sama, harga minyak mentah Brent tercatat meningkat 0,28% secara harian dan naik 14,11% secara bulanan ke posisi US$ 101,36 per barel.


Ketua Bidang Investasi & Kerja Sama Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Nasional (Aspermigas) Moshe Rizal mengatakan, kenaikan harga minyak tidak serta-merta mendorong perusahaan migas meningkatkan investasi, terutama pada kegiatan eksplorasi yang memiliki tingkat risiko tinggi.

Menurutnya, perusahaan migas justru cenderung memanfaatkan harga minyak yang tinggi untuk meningkatkan produksi dari lapangan yang sudah beroperasi.

Baca Juga: Harga Minyak Naik, Keekonomian Proyek Hulu Migas Indonesia Makin Menarik

Langkah tersebut dinilai lebih menarik karena perusahaan dapat segera menikmati tambahan arus kas di tengah harga komoditas yang mendaki.

"Jadi, perusahaan migas itu sukanya harga yang stabil, bukan harga tinggi. Harga tinggi itu akan mereka manfaatkan untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, tetapi bukan untuk mereka berinvestasi di area yang misalkan berisiko, seperti eksplorasi," jelas Rizal kepada Kontan, Rabu (9/9/2026).

Rizal Bilang, ketika harga minyak berada pada level tinggi dan menghasilkan arus kas yang besar, perusahaan migas global biasanya mengalokasikan dana untuk aktivitas korporasi, seperti merger dan akuisisi (M&A), pembelian kembali saham (buyback), maupun akuisisi perusahaan yang lebih kecil.

Sementara itu, investasi pada eksplorasi lapangan baru cenderung tetap dilakukan secara hati-hati.

Pasalnya, kegiatan eksplorasi membutuhkan modal besar dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi. Sementara harga minyak sangat dipengaruhi oleh kondisi geopolitik dan dinamika pasokan-permintaan (supply-demand) global.

"Ekspansi bisa, tetapi ekspansi dengan mengakuisisi lapangan-lapangan yang sudah produktif. Bukan lapangan yang risikonya tinggi. Karena mereka tidak tahu ke depannya harga akan seperti apa," katanya.

Tarik Investor ke Sektor Hulu

Rizal menyebut, kondisi harga minyak yang tinggi juga dapat menjadi momentum bagi pemerintah Indonesia untuk menarik investor ke sektor hulu migas. Namun, strategi yang ditawarkan harus disesuaikan dengan karakter investor di tengah ketidakpastian harga minyak.

Pemerintah, kata dia, sebaiknya tidak hanya menawarkan wilayah kerja yang masih berada dalam tahap eksplorasi. Pemerintah dapat menawarkan lapangan-lapangan yang saat ini kurang produktif untuk dicarikan mitra strategis sehingga produksinya dapat ditingkatkan.

Menurut Rizal, lapangan yang telah memiliki produksi akan lebih menarik bagi investor karena risiko investasinya relatif lebih terukur. 

"Biasanya kalau harga lagi tidak stabil seperti ini, naik, besok turun lagi, orang akan wait and see. Mereka akan selalu melihat jangka panjangnya seperti apa harganya," kata Rizal.

Baca Juga: Target Lifting Migas 2027 Dinilai Optimistis, DEN Ingatkan Tantangan Lapangan Tua

Salah satu perusahaan yang memproduksi migas, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) juga melihat kenaikan harga minyak sejak kuartal kedua sebagai angin segar untuk menggenjot produksi.

"Seiring harga minyak yang membaik di kuartal kedua, serta disiplin biaya yang tetap terjaga, kami cukup percaya diri bahwa hasil keuangan semester pertama akan jauh lebih baik," kata Chief Financial Officer MEDC Benny Setiawan dalam paparan publik, Rabu (9/9/2026).

Di lain sisi, kenaikan harga minyak global tidak serta-merta berdampak terhadap seluruh rantai bisnis migas.

Perusahaan jasa pengeboran migas PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX), misalnya, menyebut kenaikan harga minyak dunia tak berdampak terhadap tarif sewa rig atau dayrate yang dibukukan.

Corporate Secretary APEX Frieda Salvantina menjelaskan, hal ini lantaran tarif sewa rig telah disepakati bersama klien sejak awal kontrak. 

"Jadi meskipun ada kenaikan harga minyak dunia, harga sewa rig kami tetap sesuai kontrak," kata Frieda kepada Kontan, Selasa (8/9/2026).

Nilai Keekonomian

Dari sisi nilai keekonomian proyek hulu migas, manfaat kenaikan harga minyak global pun dinilai tak sama untuk seluruh jenis lapangan.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, lapangan tua onshore dan brownfield yang infrastrukturnya sudah tersedia biasanya paling cepat merasakan manfaat karena tambahan biaya untuk workover, well service, atau enhanced oil recovery (EOR) relatif kecil.

Menurut dia, kondisi berbeda terjadi pada proyek laut dalam seperti North Hub dan Abadi Masela. Proyek-proyek tersebut membutuhkan belanja modal (capex) besar dan memiliki waktu pengembangan hingga produksi yang panjang. 

Karena itu, keputusan investasi tidak hanya ditentukan oleh harga minyak spot, tetapi juga mempertimbangkan asumsi harga jangka panjang, kepastian fiskal serta tingkat pengembalian investasi.

Baca Juga: Pemerintah Naikkan Target Lifting Minyak 2027,Optimalisasi Sumur Masyarakat Disorot

Namun, Yusuf mengingatkan, harga minyak saat ini belum dapat dianggap sebagai harga struktural. Sebab, kenaikan masih dipengaruhi kondisi geopolitik akibat ketegangan di Selat Hormuz dan kawasan Teluk. 

"Dengan begitu, harga minyak tinggi dapat menjadi katalis peningkatan aktivitas hulu dalam jangka pendek, tetapi belum cukup untuk menjamin lonjakan produksi minyak nasional," tandas Yusuf.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News