KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah kembali menguat pada perdagangan Selasa (1/9/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali terlibat dalam konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah. Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent untuk kontrak berjangka naik 66 sen atau 0,7% menjadi US$91,15 per barel pada pukul 06.40 GMT (13:40 WIB). Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 70 sen atau 0,8% menjadi US$86,46 per barel. Pada perdagangan sebelumnya, harga Brent ditutup menguat 2,7% dan sempat menyentuh level tertinggi sejak 25 Agustus. Adapun harga WTI berakhir naik 2,8% dan sempat mencapai level tertinggi sejak 21 Agustus.
Kenaikan harga minyak terjadi setelah Presiden AS Donald Trump pada Senin mengancam akan melancarkan serangan lebih lanjut terhadap Iran. Ancaman tersebut muncul setelah AS dan Iran pada Minggu terlibat dalam pertukaran serangan langsung untuk pertama kalinya dalam sebulan. Perkembangan tersebut kembali meningkatkan ketegangan di tengah konflik yang sebelumnya mulai bergeser menjadi perselisihan ekonomi.
Baca Juga: Korea Utara dan AS Disebut Mulai Buka Jalan Dialog, Trump Siap Bertemu Kim Jong Un Analis pasar utama KCM, Tim Waterer, mengatakan potensi aksi balasan Iran menjadi salah satu risiko yang kembali diperhitungkan oleh pasar minyak. "Hal ini kembali membuka kemungkinan adanya pembalasan dari Iran. Pada gilirannya, hal tersebut meningkatkan prospek kerusakan terhadap infrastruktur energi di sekitar Teluk dan menambah ketidakpastian baru bagi pelayaran melalui Selat Hormuz. Kedua risiko tersebut tercermin dalam penguatan harga minyak mentah," kata Waterer.
Aktivitas kapal di Selat Hormuz turun
Risiko terhadap pasokan minyak semakin besar karena aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz masih berada di bawah kondisi normal. Pada Senin, jumlah kapal komoditas yang terpantau melintasi Selat Hormuz hanya sekitar lima kapal per hari. Angka tersebut jauh di bawah rata-rata 10 hari yang mencapai sekitar 14 kapal per hari, berdasarkan data pelayaran Kpler. Dari lima kapal tersebut, tidak ada satu pun yang merupakan kapal tanker pengangkut cairan. Upaya mediator, termasuk Qatar dan Oman, untuk mencapai kesepakatan guna membuka kembali Selat Hormuz sejauh ini belum menunjukkan perkembangan berarti. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan minyak paling strategis di dunia. Sebelum perang pecah pada akhir Februari, sekitar seperlima pasokan minyak global melewati jalur perairan tersebut. Iran menutup Selat Hormuz setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap negara tersebut pada 28 Februari. Risiko terhadap aktivitas pelayaran kembali terlihat setelah United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) pada Selasa melaporkan sebuah kapal tanker terkena tiga proyektil ketika berlayar keluar dari Selat Hormuz. Tidak ada korban jiwa maupun dampak lingkungan yang dilaporkan.
Aliran minyak masih jauh di bawah level sebelum konflik
Analis ANZ menilai kondisi di Selat Hormuz menunjukkan bahwa gangguan pasokan minyak masih menjadi perhatian utama pasar. "Meskipun perusahaan pelacak satelit memperkirakan aliran minyak melalui Hormuz mencapai sekitar 6 juta barel per hari, angka tersebut masih jauh di bawah level sebelum konflik," kata analis ANZ dalam sebuah catatan. Kondisi tersebut semakin diperburuk oleh menipisnya cadangan penyangga di pasar minyak global.
Baca Juga: Imbal Hasil Obligasi Global Melonjak, Harga Minyak Tembus US$91 per Barel "Pada saat yang sama, cadangan penyangga yang selama ini menjadi andalan pasar minyak global mulai terkuras. Persediaan minyak AS mendekati level minimum, sementara kemampuan China untuk mempertahankan impor yang rendah akan diuji ketika permintaan musiman mulai meningkat," tulis analis ANZ. Data menunjukkan persediaan minyak mentah di Strategic Petroleum Reserve (SPR) AS turun sekitar 3,1 juta barel pada pekan lalu. Dengan demikian, total stok cadangan strategis AS kini berada di sekitar 286,6 juta barel.
Harga minyak berpotensi bertahan di atas US$80
Gangguan distribusi melalui Selat Hormuz menjadi salah satu faktor yang berpotensi menjaga harga minyak tetap tinggi sepanjang tahun ini. Hasil jajak pendapat Reuters terhadap para analis pada Agustus menunjukkan bahwa harga minyak diperkirakan tetap berada di atas US$80 per barel pada 2026. Proyeksi tersebut mempertimbangkan potensi gangguan pengiriman minyak yang masih berlangsung. Pasar kini mencermati perkembangan konflik AS-Iran, keamanan infrastruktur energi di kawasan Teluk, serta normalisasi aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz. Jika ketegangan kembali meningkat dan menghambat arus kapal tanker, tekanan terhadap pasokan minyak global berpotensi semakin besar. Kondisi tersebut dapat memberikan dorongan tambahan bagi harga minyak mentah dalam beberapa waktu ke depan.