Harga Minyak Naik Lebih dari US$1, Konflik AS-Iran Ganggu Selat Hormuz



KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Harga minyak mentah dunia kembali menguat pada perdagangan Senin (7/9/20265), setelah meningkatnya serangan balasan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah akan berlangsung lebih lama.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman berikutnya naik US$1,20 atau 1,25% menjadi US$97,48 per barel pada pukul 07.27 GMT. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS meningkat US$1,14 atau 1,25% menjadi US$92,62 per barel.

Kenaikan tersebut melanjutkan reli harga minyak pada pekan sebelumnya. Harga Brent melonjak 7,8% sepanjang pekan lalu, sedangkan WTI menguat hampir 10% setelah AS dan Iran kembali melakukan serangan yang berdampak terhadap arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.


Baca Juga: Gaji Menteri Singapura Jadi Sorotan Parlemen, Segini Besarannya

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia. Sebelum konflik meningkat, sekitar seperlima pasokan minyak dunia biasa melewati jalur tersebut.

Serangan terhadap Kapal Tanker Minyak Meningkat

Ketegangan di jalur pelayaran strategis tersebut meningkat setelah pasukan AS menyerang tiga kapal tanker minyak Iran pada Sabtu. Komando Pusat AS atau U.S. Central Command menyebut salah satu serangan terjadi di lepas pantai Pulau Kharg, yang merupakan lokasi penting bagi aktivitas ekspor minyak Iran.

Di sisi lain, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran pada Sabtu menyatakan telah menargetkan tiga kapal tanker minyak yang melintas melalui rute tidak berizin di Selat Hormuz. Iran juga menyebut telah menargetkan tiga kapal AS di wilayah lainnya.

Perusahaan intelijen maritim Marisks menilai serangkaian serangan tersebut sebagai eskalasi besar dalam konflik maritim antara kedua negara.

"Tankers komersial kini sengaja digunakan sebagai instrumen tekanan ekonomi timbal balik, yang secara signifikan mengaburkan perbedaan sebelumnya antara konfrontasi militer dan pelayaran komersial," ujar Marisks.

Kondisi tersebut meningkatkan risiko terhadap aktivitas pelayaran dan berpotensi memperbesar gangguan distribusi minyak global apabila kapal tanker semakin banyak menghindari Selat Hormuz.

Baca Juga: Harga Rumah di Inggris Turun untuk Pertama Kali dalam Hampir Tiga Tahun

Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Merosot

Data perusahaan analitik Kpler menunjukkan rata-rata hanya sekitar 10 kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz setiap hari dalam 10 hari terakhir. Angka tersebut merupakan yang terendah sejak Mei.

Penurunan lalu lintas kapal menjadi salah satu indikator yang memperkuat kekhawatiran pasar terhadap potensi guncangan pasokan minyak.

"Jika lalu lintas kapal tanker mulai melambat secara material, pasar dapat memperhitungkan guncangan pasokan yang jauh lebih besar. Dan sudah ada tanda-tanda bahwa hal tersebut sedang terjadi," kata Priyanka Sachdeva, kepala wawasan pasar di Phillip Nova.

Iran juga berencana mengumumkan zona terbatas di luar Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang. Hal tersebut disampaikan Mohsen Rezaei, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, pada Minggu dan dilaporkan media pemerintah Iran.

Langkah tersebut berpotensi semakin membatasi ruang gerak kapal komersial yang melintas di sekitar jalur strategis tersebut.

OPEC+ Pertahankan Kebijakan Produksi Minyak

Di tengah meningkatnya risiko gangguan pasokan, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) memutuskan mempertahankan kebijakan produksi minyak untuk Oktober.

Keputusan tersebut disampaikan kelompok produsen minyak itu setelah pertemuan pada Minggu. OPEC+ masih perlu menyepakati kuota baru sebelum menentukan langkah produksi berikutnya.

Keputusan untuk mempertahankan kebijakan produksi menjadi perhatian pasar karena gangguan pasokan dari Timur Tengah terjadi ketika ruang untuk menambah pasokan minyak global masih menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan pasar.

Baca Juga: Produksi Industri Jerman Turun 1,1% pada Juli 2026, Sektor Otomotif Jadi Beban

Gangguan Pasokan Minyak Diperkirakan Berlangsung hingga 2027

Analis ANZ menilai skenario yang paling mungkin terjadi adalah kebuntuan berkepanjangan antara AS dan Iran yang diselingi aksi militer secara terukur.

Situasi tersebut diperkirakan dapat menunda pemulihan penuh pasokan minyak dari Timur Tengah.

"Kami kemudian memperkirakan ekspor akan tetap terbatas sepanjang sisa tahun 2026, sebelum pembukaan kembali secara bertahap pada akhir kuartal IV 2026," tulis analis ANZ dalam catatannya.

ANZ menambahkan, volume aliran minyak diperkirakan belum kembali ke tingkat sebelum perang hingga akhir kuartal I atau awal kuartal II 2027.

Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa pasar minyak global masih menghadapi risiko pasokan dalam jangka panjang. Apabila gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz semakin parah, harga minyak berpotensi mendapatkan tekanan kenaikan lebih lanjut.

Kondisi ini juga menjadi perhatian bagi negara-negara importir minyak, termasuk Indonesia, karena kenaikan harga minyak dunia dapat meningkatkan biaya impor energi dan memberikan tekanan terhadap neraca perdagangan serta anggaran energi.