KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kegagalan perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang dibarengi ancaman blokade baru di Selat Hormuz dipastikan bakal mengerek harga minyak dunia. Kendati harga mendaki, kondisi ini dinilai tidak serta-merta mendorong perusahaan minyak dan gas (migas) untuk meningkatkan investasi di sektor hulu, khususnya kegiatan eksplorasi. Ketua Komite Investasi Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Nasional (Aspermigas), Moshe Rizal menjelaskan, eskalasi konflik di Timur Tengah ini justru menambah ketidakpastian global.
Baca Juga: Kemendag Tetapkan HPE Konsentrat Tembaga dan Emas Turun 4% di Bulan April 2026 "Begitu diskusi negosiasinya gagal, naik kan harga. Apalagi Amerika bilang mau blokade lagi. Jadi ini, ya gimana, banyak ketidakpastian yang kita ada sih sekarang," ujarnya kepada Kontan, Rabu (15/4/2026). Moshe menekankan bahwa kenaikan harga minyak akibat hambatan pasokan di Selat Hormuz tidak akan memicu gairah investasi baru. Alih-alih melakukan ekspansi, perusahaan migas justru akan memanfaatkan momentum harga tinggi untuk meraup
profit sebesar-besarnya guna keperluan restrukturisasi maupun aksi korporasi seperti
buyback saham. "Jadi harga minyak naik itu bukan berarti semua orang berbondong-bondong untuk investasi di migas, bukan. Salah. Semua perusahaan migas akan berbondong-bondong memanfaatkan keadaan bukan untuk investasi, untuk mendapatkan
profit sebesar-besarnya," tegasnya. Lebih lanjut, Moshe melihat arah investasi perusahaan migas akan lebih konservatif dengan menyasar sektor yang memberikan hasil instan. Fokus pelaku usaha akan bergeser ke lapangan-lapangan yang sudah berproduksi guna memaksimalkan portofolio yang ada, ketimbang mengambil risiko pada kegiatan eksplorasi yang bersifat jangka panjang. "Justru mereka akan investasi ke sektor-sektor yang lebih pasti yang langsung menghasilkan produksi. Yang produksinya langsung nyata. Jadi bukan ke area-area eksplorasi. Karena kalau di situ, itu sifatnya jangka panjang. Jadi masih tetap saja sulit untuk cari investor-investor baru untuk lapangan baru," pungkasnya. Untuk diketahui, Harga minyak dunia kembali melemah untuk hari kedua berturut-turut pada Rabu (15/4), seiring meningkatnya harapan dimulainya kembali perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Baca Juga: Biaya Energi Naik, Daya Saing Industri Baja Kian Terhimpit Melansir
Reuters, harga minyak mentah jenis Brent turun 0,55% menjadi US$ 94,27 per barel, setelah sebelumnya anjlok 4,6%. Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 1,1% ke level US$ 90,24 per barel, usai merosot 7,9% pada sesi sebelumnya. Penurunan ini dipicu optimisme pasar bahwa negosiasi antara AS dan Iran dapat segera dilanjutkan, yang berpotensi membuka kembali pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah. Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa pembicaraan damai bisa kembali digelar di Pakistan dalam waktu dekat, setelah perundingan sebelumnya gagal dan memicu blokade terhadap pelabuhan Iran.
Meski ada harapan diplomasi, kondisi di lapangan masih belum stabil. Penutupan Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak global masih membatasi arus pengiriman energi. Lalu lintas kapal di kawasan tersebut masih jauh di bawah normal, hanya sebagian kecil dari sekitar 130 kapal yang biasanya melintas sebelum konflik terjadi. Bahkan, kapal perang AS sempat menghentikan dua tanker yang mencoba keluar dari Iran, menegaskan ketatnya implementasi blokade. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News