KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek emiten kendaraan listrik atau
electric vehicle (EV) dinilai kian menjanjikan di tengah kenaikan harga minyak global dan ketidakpastian pasokan energi.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi menilai kondisi ini menjadi katalis struktural bagi sektor EV. Kenaikan harga minyak secara langsung meningkatkan biaya kepemilikan kendaraan konvensional, sementara EV lebih efisien dari sisi operasional. “Kondisi ini menjadi
structural tailwind bagi sektor EV. EV relatif lebih stabil karena bergantung pada listrik yang cenderung lebih terkontrol harganya,” katanya kepada Kontan, Selasa (31/3/2026).
Baca Juga: Laba Grup Indofood (INDF) dan (ICBP) Kompak Melejit Dua Digit pada 2025 Selain itu, ketidakpastian pasokan energi global juga memperkuat urgensi transisi energi, sehingga kebijakan pemerintah, baik subsidi maupun insentif pajak, diperkirakan tetap mendukung pengembangan EV. Imam menambahkan, outlook sektor EV pada tahun ini masih positif, meskipun investor tetap perlu selektif dalam memilih emiten. Senada, Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai lonjakan harga minyak menjadi momentum penting bagi percepatan adopsi kendaraan listrik. “Lonjakan harga minyak global menjadi momentum emas bagi industri EV, karena konsumen mulai beralih untuk menekan biaya operasional di tengah ketidakpastian energi,” jelasnya. Dari sisi permintaan, penjualan kendaraan elektrifikasi pada Januari 2026 tercatat tumbuh 118,4% secara tahunan. Imam menilai lonjakan ini mencerminkan fase
early adoption acceleration. Ke depan, pertumbuhan penjualan diperkirakan masih berlanjut, meski tidak lagi setinggi awal tahun. “Pertumbuhan masih bisa berlanjut, didorong penambahan model EV dengan harga lebih terjangkau dan ekspansi infrastruktur charging. Namun ada potensi normalisasi karena faktor daya beli dan ketergantungan pada insentif pemerintah,” ungkap Imam. Abida juga optimistis tren pertumbuhan ini akan berlanjut. Ia mencatat penjualan
battery electric vehicle (BEV) pada Januari 2026 mencapai lebih dari 10.000 unit, dengan pangsa pasar kendaraan elektrifikasi yang terus meningkat. Momentum ini turut ditopang oleh semakin banyaknya pilihan model, ekspansi infrastruktur pengisian daya atau SPKLU, serta masuknya produsen global yang membangun fasilitas produksi di dalam negeri.
Baca Juga: IHSG Turun 0,61% ke 7.048, Top Losers LQ45: MEDC, BUMI dan EMTK, Selasa (31/3) Dari sisi adopsi, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dinilai menjadi katalis jangka pendek yang cukup efektif, khususnya bagi segmen menengah ke atas. “Dari sisi biaya, EV bisa lebih hemat 60%-70% dibandingkan kendaraan konvensional, terutama saat harga BBM meningkat,” kata Abida. Meski demikian, percepatan adopsi EV tetap dipengaruhi sejumlah faktor, seperti ketersediaan infrastruktur charging, harga kendaraan yang masih relatif tinggi, serta persepsi konsumen terkait jarak tempuh dan nilai jual kembali. Dari sisi kinerja emiten, peluang pertumbuhan dinilai tidak hanya datang dari produsen kendaraan, tetapi juga dari seluruh rantai pasok industri EV. Imam melihat segmen hulu seperti nikel dan material baterai berpotensi mendapat manfaat terbesar dari meningkatnya permintaan baterai. Sementara itu, segmen midstream seperti pengolahan baterai menawarkan nilai tambah yang lebih tinggi. Adapun di sisi hilir, produsen dan distributor kendaraan listrik masih berada dalam fase investasi, sehingga margin belum optimal. Sementara itu, sektor infrastruktur seperti charging station dan energi berpotensi memberikan pendapatan berulang. “Peluang terbesar justru ada di rantai pasok EV, mulai dari hulu hingga infrastruktur,” jelas Imam. Abida menambahkan, sejumlah emiten domestik mulai aktif mengembangkan ekosistem EV, baik di sisi kendaraan, distribusi, hingga baterai. Masuknya produsen EV global ke Indonesia juga membuka peluang bagi pemain lokal dalam memenuhi kebutuhan komponen dalam negeri seiring kebijakan tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Dari sisi rekomendasi, Imam menilai PT Timah Tbk (TINS) menarik untuk dicermati sebagai tactical play di tengah meningkatnya kebutuhan logam untuk elektrifikasi.
“Meskipun bukan
pure EV play, timah memiliki peran penting dalam industri elektronik, termasuk untuk komponen baterai dan sistem kelistrikan kendaraan listrik,” ujarnya. Ia merekomendasikan
buy untuk saham TINS dengan rentang
entry di Rp3.200 hingga Rp3.300, target harga di Rp3.470 hingga Rp3.600, serta
stop loss di bawah Rp3.000.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.041, Cetak Rekor Terburuk! Lonjakan Harga Minyak Jadi Biang Keladi Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News