Harga Minyak Naik Tiga Hari Beruntun, Yen Jepang Dekati Level Intervensi 160



KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Harga minyak dunia kembali menguat untuk hari ketiga berturut-turut pada Rabu, di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk setelah pembicaraan damai Amerika Serikat–Iran kembali menemui kebuntuan.

Minyak Brent naik sekitar 1% ke level US$ 94,74 per barel, didorong kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi dari kawasan tersebut.

Di pasar valuta asing, dolar AS sempat menyentuh level 160 yen Jepang sebelum kembali stabil. Level ini dipandang sebagai batas psikologis penting yang berpotensi memicu intervensi dari otoritas Jepang jika pelemahan yen berlanjut.


Baca Juga: Rusia Klaim Tembak Jatuh 50 Drone Ukraina Dekat St. Petersburg

Ketegangan geopolitik meningkat setelah laporan serangan rudal di kawasan Teluk, termasuk Bahrain dan Kuwait, meski sebagian besar serangan diklaim berhasil dicegat oleh pihak militer Amerika Serikat. Upaya diplomasi antara Washington dan Teheran disebut masih belum menghasilkan kemajuan berarti.

Sebelumnya, kedua negara sempat mengisyaratkan adanya kesepakatan awal untuk meredakan konflik, namun hingga kini belum ada dokumen final yang disepakati.

Di pasar global, indeks saham berjangka AS bergerak datar, sementara pasar Eropa sedikit melemah. Namun di Asia, sektor teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) tetap menjadi penggerak utama reli saham, dengan indeks di Taiwan dan Jepang mencetak rekor tertinggi.

Saham teknologi juga melonjak setelah optimisme terhadap industri AI terus meningkat, termasuk lonjakan tajam pada saham beberapa perusahaan semikonduktor besar.

Sebaliknya, aset kripto mengalami tekanan jual. Bitcoin turun hampir 10% dalam tiga sesi dan menyentuh level terendah dua bulan, dipicu aksi ambil untung dan spekulasi kebutuhan likuiditas untuk aktivitas korporasi besar.

Di sisi lain, pasar obligasi relatif stabil dengan imbal hasil US Treasury 10 tahun bertahan di 4,46%. Investor kini menantikan rilis data tenaga kerja dan sektor jasa Amerika Serikat yang akan menjadi acuan arah kebijakan suku bunga berikutnya.

Secara umum, pasar global masih bergerak hati-hati, dengan kombinasi faktor geopolitik, ekspektasi suku bunga, dan rotasi investasi ke sektor teknologi menjadi penggerak utama sentimen.

Baca Juga: Bank Sentral China Stop Injeksi Likuiditas Harian Pertama Kali Sejak 2024