KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak dunia bergerak naik tipis mendekati level US$100 per barel pada Jumat (10/4/2026), terdorong kekhawatiran gangguan pasokan dari Arab Saudi dan tersendatnya distribusi di Selat Hormuz. Namun, secara mingguan, harga masih berpotensi mencatat penurunan terdalam sejak Juni akibat meredanya tensi geopolitik sementara. Minyak Brent tercatat naik 0,4% ke US$96,32 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat sekitar 0,9% ke US$98,71. Meski menguat harian, kedua acuan ini telah merosot sekitar 12% sepanjang pekan ini.
Penurunan tajam tersebut terjadi setelah Iran dan Amerika Serikat menyepakati gencatan senjata selama dua pekan yang dimediasi Pakistan.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Tipis di Tengah Rumor Serangan AS ke Venezuela Kesepakatan ini sempat meredakan kekhawatiran pasar, meski kondisi di lapangan belum sepenuhnya stabil. Pasokan minyak global masih dibayangi gangguan serius, terutama dari kawasan Teluk. Serangan terhadap fasilitas energi Arab Saudi memangkas produksi sekitar 600.000 barel per hari, sekaligus mengurangi kapasitas pipa East-West hingga 700.000 barel per hari. Di sisi lain, jalur vital Selat Hormuz yang menjadi arteri utama distribusi minyak dunia masih mengalami hambatan berat. Lalu lintas kapal dilaporkan baru mencapai kurang dari 10% dari volume normal, dengan sebagian besar kapal yang melintas terkait dengan Iran. Situasi ini terjadi setelah konflik yang dipicu serangan udara AS dan Israel ke Iran pada akhir Februari.
Baca Juga: Pasar Menanti Pembicaraan Nuklir AS-Iran, Harga Minyak Dunia Naik Tipis Kondisi tersebut membuat pasokan fisik minyak menjadi sangat ketat, bahkan mendorong harga di pasar fisik ke rekor tertinggi, meskipun pasar berjangka mulai memperhitungkan normalisasi terbatas. Selain itu, lebih dari 60 infrastruktur energi di kawasan Teluk dilaporkan terdampak serangan drone dan rudal, dengan sejumlah fasilitas membutuhkan waktu perbaikan cukup lama. Badan Informasi Energi AS (EIA) mencatat produksi minyak yang terhenti di Timur Tengah mencapai 7,5 juta barel per hari pada Maret dan diperkirakan meningkat menjadi 9,1 juta barel per hari pada April. Meski demikian, sejumlah produsen Timur Tengah mulai bersiap untuk pemulihan distribusi. Mereka telah meminta kilang di Asia mengajukan rencana pengapalan minyak untuk April dan Mei, sebagai antisipasi dibukanya kembali jalur Selat Hormuz. Di tengah ketidakpastian ini, faktor lain turut menahan lonjakan harga.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Tipis Rabu (24/12): Brent ke US$62,42 & WTI ke US$58,41 Amerika Serikat dikabarkan akan memperpanjang izin bagi sejumlah negara untuk tetap membeli minyak Rusia yang terkena sanksi, guna menjaga stabilitas harga energi global. Sejalan dengan itu, ekspor minyak Rusia dari pelabuhan barat juga dilaporkan meningkat pada awal April. Dengan kombinasi gangguan pasokan dan perkembangan diplomasi yang belum solid, pasar minyak saat ini berada dalam tarik-menarik antara potensi kenaikan harga akibat krisis pasokan dan tekanan turun dari harapan meredanya konflik. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News