Harga minyak naik tipis walau masih dihantui prospek penurunan permintaan



KONTAN.CO.ID - TOKYO. Harga minyak berhasil naik tipis setelah empat hari melemah karena investor masih khawatir tentang prospek permintaan bahan bakar setelah penggunaan kereta api, udara dan transportasi lainnya tetap dibatasi di tengah melonjaknya kasus Covid-19 di seluruh dunia.

Rabu (18/8) pukul 14.00 WIB, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Oktober 2021 naik 0,8% ke US$ 69,59 per barel. 

Serupa, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman  Oktober 2021 juga 0,8% menjadi US$ 67,09 per barel.


"Dalam jangka pendek, pasar minyak mungkin bergejolak dengan kecenderungan melemah karena harga minyak mentah mulai kesulitan karena permintaan di Eropa dan India menghadapi hambatan," kata Avtar Sandu, Senior Manager Commodities Phillip Futures di Singapura.

India, importir minyak mentah terbesar ketiga di dunia, memulai penjualan minyak ke penyuling yang dikelola negara dari Strategic Petroleum Reserve (SPR), menerapkan kebijakan baru untuk mengkomersialkan penyimpanan federal dengan menyewakan ruang.

Di sisi lain, dolar AS yang lebih kuat juga memukul harga komoditas secara keseluruhan, dan membuat harga logam mulia dan emas "sama rapuhnya" seperti minyak, jelas ANZ Research dalam sebuah catatan yang dikutip Reuters.

Baca Juga: Harga minyak turun dalam lima hari berturut-turut hingga Rabu (18/8)

Minyak mentah biasanya dihargai dalam dolar AS, sehingga jika the greenback lebih kuat dapat membuat minyak menjadi lebih mahal bagi mata uang lainnya dan akhirnya memukul permintaan.

Di Amerika Serikat, lebih banyak pasokan diatur ke pasar jika perkiraan resmi terbukti benar.

Produksi minyak serpih AS diperkirakan akan meningkat menjadi 8,1 juta barel per hari (bph) pada September, tertinggi sejak April 2020, menurut laporan output pengeboran bulanan dari Energy Information Administration. 

Persediaan minyak mentah dan bensin AS turun pekan lalu, menurut dua sumber pasar, mengutip angka American Petroleum Institute pada hari Selasa, sementara stok sulingan naik.

Selanjutnya: Pemerintah targetkan Satelit Satria-1 mulai beroperasi pada November 2023

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari