Harga Minyak Rebound Setelah Anjlok di Awal Pekan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak menguat pada pagi ini setelah melemah di awal pekan. Selasa (18/7) pukul 7.33 WIB, harga minyak WTI kontrak Agustus 2023 di New York Mercantile Exchange menguat 0,23% ke US$ 74,32 per barel.

Sedangkan harga minyak Brent kontrak September 2023 di ICE Futures naik 0,16% ke US$ 78,63 per barel. Penguatan tipis harga minyak ini terjadi setelah kemarin anjlok dalam.

Pada Senin (17/7), harga minyak Brent melorot 1,71%. Sedangkan harga minyak WTI melorot 1,68%.


Harga minyak kemarin merosot setelah pertumbuhan ekonomi China yang lebih lemah dari yang diharapkan memicu kekhawatiran atas permintaan di konsumen minyak terbesar kedua di dunia tersebut. Sementara dimulainya kembali sebagian produksi Libya yang dihentikan juga menekan harga minyak.

Baca Juga: Harga Turun, Nilai Ekspor CPO, Batubara dan Besi Baja Indonesia Menyusut

Produk domestik bruto (PDB) China tumbuh 6,3% YoY di kuartal kedua, jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan perkiraan analis sebesar 7,3%. Pemulihan pasca-pandemi goyah dengan cepat karena melemahnya permintaan di dalam dan luar negeri.

Otoritas China menghadapi tugas yang berat untuk mencoba menjaga pemulihan ekonomi di jalurnya. Pertumbuhan ekonomi melambat sebesar 0,8% dari kuartal sebelumnya, menurut angka Biro Statistik Nasional.

"PDB di bawah ekspektasi, jadi tidak akan banyak meredakan kekhawatiran atas ekonomi China," kata Warren Patterson, kepala penelitian komoditas ING kepada Reuters.

Baca Juga: IHSG Cenderung Naik Pekan Ini, Catat 20 Saham Rekomendasi Indo Premier Sekuritas

Kedua tolok ukur harga minyak telah membukukan kenaikan tiga minggu dan menyentuh level tertinggi sejak April pekan lalu. Kenaikan harga minyak mendapat dukungan dari pembatasan produksi OPEC+ dan pemadaman yang tidak direncanakan di Libya dan Nigeria.

Tekanan harga minyak pada perdagangan kemarin juga berasal dari dimulainya kembali produksi di dua dari tiga ladang Libya yang ditutup pekan lalu. Produksi telah dihentikan oleh protes terhadap penculikan mantan menteri keuangan.

Tanda lain dari pengetatan pasokan, ekspor minyak Rusia dari pelabuhan barat akan turun 100.000-200.000 barel per hari bulan depan. Penurunan ini merupakan tanda bahwa Moskow memenuhi janji untuk pengurangan pasokan bersamaan dengan Arab Saudi, kata dua sumber pada hari Jumat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati