Harga Minyak Reli, Keraguan terhadap Kesepakatan AS-Iran Picu Kekhawatiran Pasokan



KONTAN.CO.ID - BEIJING. Harga minyak naik pada hari ini karena keraguan mengenai kesepakatan damai AS-Iran dan serangan terhadap dua kapal memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan dari Timur Tengah, meskipun data industri menunjukkan peningkatan inventaris minyak mentah AS.

Rabu (12/8/2026) pukul 13.30 WIB, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Oktober 2026 naik 75 sen atau 0,84% menjadi US$ 89,66 per barel.

Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman September 2026 naik 72 sen atau 0,87% ke US$ 83,92 per berel.


Kedua kontrak tersebut sempat naik lebih dari $1 pada awal sesi perdagangan dengan Brent kembali ke atas US$ 90 per barel.

Baca Juga: Pentagon: Operasi Militer AS Tewaskan 153 Warga Sipil Sepanjang 2025

Kenaikan ini menyusul lonjakan lebih dari US$ 1 pada hari Selasa, yang mencatatkan harga penutupan tertinggi bagi kedua kontrak tersebut sejak 31 Juli.

Harga sempat melonjak sekitar 5% pada hari Senin karena harapan akan kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran mulai memudar, setelah Presiden Trump mengajukan tuntutan baru agar Iran memberikan kompensasi bagi korban tewas dalam perang, serangan, dan protes.

"Timur Tengah semakin berada dalam situasi yang tidak menentu antara 'kesepakatan' dan 'perang', yang membuat harga minyak bergerak naik-turun seperti bandul di kisaran $70 hingga $90 per barel," ujar Priyanka Sachdeva, kepala wawasan pasar di Phillip Nova, Singapura.

Amerika Serikat dan kelompok Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran melaporkan adanya serangan terpisah terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb pada hari Selasa. Pejabat keamanan tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan bahwa Selat Hormuz yang vital akan tetap ditutup kecuali AS menerima syarat-syarat Iran untuk mengakhiri perang, termasuk pelepasan aset-asetnya yang dibekukan dan penghentian konflik-konflik regional lainnya.

Amerika Serikat mungkin membiarkan Iran "berjalan apa adanya" atau "memukul mereka dengan sangat keras," kata Trump dalam sebuah wawancara pada hari Selasa.

Sepanjang konflik berlangsung, ia silih berganti melontarkan ancaman eskalasi dan klaim bahwa kesepakatan damai akan segera tercapai.

Namun, ketidakpastian tersebut bisa jadi menguntungkan bagi sebagian pihak, tambah Sachdeva.

"Kita mungkin memasuki situasi di mana pasar sekadar beradaptasi dengan perubahan narasi yang terjadi setiap minggu," ujarnya.

"Hal itu menciptakan kondisi pasar yang sangat fluktuatif namun kaya akan peluang bagi pedagang harian (*intraday traders*), *scalper*, dan spekulan jangka pendek."

Data pelayaran menunjukkan bahwa jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz turun ke angka terendah dalam sepekan, yakni delapan kapal, pada hari Selasa.

Baca Juga: Australia Tetapkan Aturan Baru Kurir Online, Upah Minimum Rp 394.000 per Jam

Sebelum perang, sebanyak 125 hingga 140 kapal melintasi jalur perairan penting tersebut setiap harinya.

Dari sisi pasokan, jajak pendapat Reuters pada hari Selasa menunjukkan bahwa cadangan minyak mentah dan bahan bakar AS diperkirakan telah turun pada pekan lalu.

Akan tetapi, sumber-sumber pasar yang mengutip data American Petroleum Institute menyebutkan bahwa cadangan minyak mentah AS justru melonjak tajam pada pekan yang berakhir tanggal 7 Agustus, sementara stok bensin dan distilat mengalami penurunan.

Stok minyak mentah AS naik sekitar 9,1 juta barel, sedangkan cadangan bensin dan distilat masing-masing turun sebesar 1,5 juta barel dan 596.000 barel dibandingkan pekan sebelumnya, menurut sumber-sumber tersebut.

Lonjakan stok minyak mentah itu jauh melampaui perkiraan dan—jika dikonfirmasi oleh laporan EIA pada hari Rabu nanti—dapat meredakan kekhawatiran pasar mengenai ketatnya pasokan, demikian dinyatakan Haitong Futures dalam sebuah catatan.

Angka resmi dari EIA, badan statistik di bawah Departemen Energi AS, dijadwalkan akan dirilis pada pukul 10.30 pagi waktu setempat (14.30 GMT).

Untuk pasokan jangka panjang, EIA memperkirakan gangguan sekitar 600.000 barel per hari pada pasokan minyak mentah Timur Tengah akan terus berlanjut hingga akhir tahun 2027.