KONTAN.CO.ID - SYDNEY. Harga minyak mentah kembali naik 2% pada pagi ini ke level tertinggi dalam empat minggu, karena Amerika Serikat (AS) memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap Iran sementara kedua negara meningkatkan serangan di Selat Hormuz, meningkatkan ketidakpastian tentang aliran energi. Selasa (14/7/2026) pukul 08.00 WIB, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman September 2026 naik US$ 1,68, atau 2% menjadi US$ 84,98 per barel. Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Agustus 2026 menguat US$ 1,65 atau 2,1% ke US$ 79,79 per barel.
Harga minyak mentah Brent melonjak 9,6% pada sesi sebelumnya, kenaikan harian terbesar sejak Mei 2020.
Baca Juga: Dolar AS Stabil Selasa (14/7) Pagi Jelang Data Inflasi AS, Yen Masih Tertekan Harga minyak kini berada pada level tertinggi sejak kedua negara menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri perang pada 17 Juni. Sokongan bagi harga minyak datang setelah dua kapal tanker Uni Emirat Arab dihantam oleh dua rudal jelajah Iran di jalur selatan Selat Hormuz di perairan teritorial Oman, kata Kementerian Pertahanan UEA pada hari Senin, menewaskan satu awak kapal berkebangsaan India dan melukai delapan lainnya. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada wartawan bahwa Amerika Serikat telah memberlakukan kembali blokade terhadap pelayaran Iran, menambahkan bahwa ia ingin AS mendapatkan penggantian biaya karena melindungi negara-negara yang dibantunya di Selat Hormuz. “Eskalasi terbaru, termasuk pemberlakuan kembali blokade oleh AS dan tanggapan Iran, jelas telah menyuntikkan risiko baru ke pasar,” kata kepala analis pasar KCM Trade, Tim Waterer. “Meskipun penutupan penuh belum terjadi, tujuan yang saling bertentangan dari kedua belah pihak telah membuat gambaran pasokan menjadi sangat tidak pasti,” tambahnya. Komando Pusat AS mengatakan telah memulai serangan malam ketiga berturut-turut terhadap Iran, sementara kantor berita semi-resmi Teheran, YJC, mengatakan pada Selasa pagi bahwa tujuh ledakan terdengar di kota pelabuhan Bandar Abbas dan dua lagi di Pulau Kish.
Baca Juga: Harga Minyak Ditutup Terbang 9%: Konflik Iran-AS Picu Lonjakan Tertinggi Sebulan! Di tempat lain, gerakan Houthi Yaman menembakkan rudal ke Arab Saudi setelah menuduh kerajaan tersebut membom bandara yang berada di bawah kendalinya pada hari Senin. "Jika Houthi memperluas serangan mereka ke produk minyak mentah Saudi di Laut Merah, hal itu dapat menimbulkan ketidakpastian (lebih lanjut) pada aliran minyak mentah dari kawasan tersebut," kata Simon Wong, seorang manajer portofolio di Gabelli Funds, dalam sebuah catatan. Sementara itu, persediaan minyak mentah AS diperkirakan telah turun pekan lalu, sementara persediaan bensin dan distilat kemungkinan meningkat, menurut jajak pendapat awal Reuters pada hari Senin (13/7/2026).