Harga minyak reli, WTI capai rekor tertinggi dalam tiga minggu di US$ 22 per barel



KONTAN.CO.ID - MELBOURNE. Harga minyak mentah kembali naik di awal perdagangan pada hari Selasa (5/5) di tengah ekspektasi bahwa permintaan bahan bakar akan mulai meningkat setelah beberapa negara bagian di Amerika Serikat (AS) dan negara-negara di Eropa serta Asia mulai melakukan pelonggaran terhadap kebijakan lockdown.

Mengutip Reuters, hingga pukul 08.50 WIB, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) kontrak pengiriman Juni 2020 di Nymex menguat 7,6% ke US$ 21,94 per barel. Di awal perdagangan, harga minyak berjangka AS ini sempat berada di level tertingginya dalam tiga minggu saat menyentuh US$ 22,06 per barel.

Serupa, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Juli 2020 mencapai level tertinggi US$ 28,37 per barel di awal perdagangan dan kini naik 4,1%, atau US$ 1,12 sen ke US$ 28,32. Brent naik untuk hari keenam berturut-turut.


Baca Juga: Harga minyak WTI melonjak 75% dalam sepekan ke atas US$ 20 per barel

Kedua kontrak benchmark tersebut juga berhasil membalikkan keadaan setelah menguat sekitar 3% pada hari Senin (4/5).

Prospek membaik permintaan bahan bakar karena beberapa negara bagian AS dan beberapa negara, termasuk Italia, Spanyol, Portugal, India, dan Thailand yang melonggarkan kebijakan penguncian dengan pembukaan perekonomian menjadi pemicu utama. 

"Pasar mungkin cenderung menerima berita baik secara relatif cepat," kata Daniel Hynes, ahli strategi komoditas senior di Australia dan Selandia Baru Banking Group.

Permintaan minyak global diperkirakan turun 30% pada bulan April, kata para analis, dan pemulihan kemungkinan akan lambat, terutama dengan maskapai penerbangan yang diperkirakan tidak akan beroperasi secara normal selama beberapa bulan mendatang.

Kepala Eksekutif Maskapai Penerbangan Nasional Australia Qantas Airways Alan Joyce mengatakan, permintaan perjalanan internasional dapat memakan waktu bertahun-tahun untuk kembali seperti semula. 

Baca Juga: Harga minyak kembali reli setelah persediaan minyak di AS sedikit menurun

Dengan Arab Saudi, Rusia, produsen dan perusahaan besar lainnya memangkas produksi, pasar mengabaikan keputusan regulator energi Texas yang membatalkan pemungutan suara tentang rencana pengurangan produksi 20% di negara bagian yang menjadi penghasil minyak terbesar di AS tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari