KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah yang kembali naik menjadi perhatian bagi pasar valuta asing (valas) Asia. Kenaikan harga energi berpotensi menambah tekanan bagi negara yang masih bergantung pada impor minyak. Berdasarkan data Trading Economics, Kamis (24/9/2026) pukul 17.22 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$ 93 per barel, naik 1,25% secara harian. Sementara harga Brent berada di level US$ 104 per barel, menguat 1,72%. Kenaikan harga minyak terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian terkait negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Teheran tidak akan tunduk pada ancaman dan tidak akan menyerahkan hak untuk mengembangkan teknologi nuklir untuk pembangunan ekonomi.
Baca Juga: Booming AI dan Data Center Tak Angkat Saham DCII, Ini Penyebabnya Pezeshkian juga mengatakan Iran tidak akan mengizinkan kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz selama sanksi dan blokade AS masih berlaku. Kondisi tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan minyak global. Di sisi lain, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan pemerintah AS tengah bekerja sama dengan perusahaan penyulingan minyak untuk melakukan pengurangan sukarela ekspor diesel AS sebagai alternatif dari larangan resmi ekspor. Sementara itu, Arab Saudi mengambil langkah untuk melanjutkan ekspor minyak melalui jalur pipa Timur-Barat. Perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor yang turut dicermati pasar di tengah ketidakpastian pasokan energi global. Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa mengatakan, kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kebutuhan dolar AS di negara-negara yang bergantung pada impor energi. "Tekanan juga semakin besar bagi negara yang memiliki ketergantungan terhadap impor energi karena kenaikan harga minyak meningkatkan kebutuhan dolar dan berpotensi memperlebar tekanan eksternal," kata Amru kepada Kontan, Kamis (24/9/2026). Kondisi tersebut terlihat dari pergerakan sejumlah mata uang Asia pada perdagangan Kamis (24/9/2026). Yen Jepang berada di level 158,76 per dolar AS atau melemah 0,27% secara harian dan 1,53% dalam sepekan. Rupee India berada di level 96,07 per dolar AS, melemah 0,34% secara harian dan 0,27% dalam sepekan. Rupiah juga melemah 0,24% ke level Rp 17.941 per dolar AS dan turun 0,79% dalam sepekan. Yuan China berada di level 6,71 per dolar AS, melemah 0,07% secara harian dan 0,16% dalam sepekan. Sementara won Korea Selatan berada di level 1.369,54 per dolar AS, melemah 0,26% secara harian, tetapi masih menguat 0,80% dalam sepekan. Amru mengatakan, kenaikan harga minyak tidak serta-merta memberikan tekanan yang sama kepada seluruh mata uang Asia. "Namun, pelemahan mata uang Asia tidak akan seragam. Besarnya tekanan akan bergantung pada kebijakan bank sentral, kondisi neraca perdagangan, cadangan devisa, arus modal dan fundamental ekonomi masing-masing negara," ujarnya. Selain harga minyak, pergerakan dolar AS juga masih menjadi perhatian pasar. Jika harga energi tetap tinggi sementara dolar AS bertahan kuat, tekanan terhadap mata uang Asia berpotensi berlanjut.
Menurut Amru, kondisi tersebut dapat membuat pergerakan mata uang Asia semakin beragam hingga akhir tahun. "Negara dengan fundamental eksternal yang lebih kuat, dukungan kebijakan bank sentral dan kinerja ekspor yang baik dapat memiliki daya tahan berbeda dibandingkan negara yang lebih sensitif terhadap kenaikan harga energi dan arus modal global," kata Amru.
Baca Juga: RKAB Bayan Resources (BYAN) Akhirnya Disetujui, Kapan Dampaknya Terasa pada Kinerja? Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News