Harga Minyak Stabil: Ini Pemicu Turunnya Harga Minyak ke Level Sebelum Perang Iran



KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga minyak stabil di kisaran harga sebelum perang Iran di awal pekan karena Arab Saudi memangkas harga jual resminya dan OPEC+ setuju untuk meningkatkan target produksinya mulai bulan Agustus. Di sisi lain, ekspor dari produsen utama melalui Selat Hormuz mulai pulih.

Senin (6/7/2026) pukul 21.00 WIB, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman September 2026 turun 4 sen, atau 0,06%, menjadi US$ 72,08 per barel, setelah ditutup menguat 0,45% pada hari Jumat (3/7/2026).

Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untyk kontrak pengiriman Agustus 2026 melemah 7 sen atau 0,1% ke US$ 68,62 per barel.


Tidak ada penyelesaian untuk WTI pada hari Jumat karena pasar Amerika Serikat (AS) ditutup untuk hari libur umum.

Kedua kontrak tersebut sedikit berubah pada minggu lalu setelah sebagian besar jatuh selama beberapa minggu terakhir ke tingkat yang terakhir terlihat pada akhir Februari, sebelum dimulainya perang.

Baca Juga: Microsoft Pangkas 4.800 Karyawan, PHK Massal Guncang Raksasa Teknologi

“Pergerakan penurunan ini masih dipengaruhi oleh kapal tanker yang terdampar sebelumnya dan berhasil keluar dari Teluk, sehingga mengakibatkan peningkatan minyak di perairan,” kata analis UBS, Giovanni Staunovo.

Investor terus mencermati pembicaraan antara AS dan Iran mengenai nasib pengiriman melalui Selat Hormuz sambil mengawasi pemulihan ekspor minyak Teluk.

Uni Emirat Arab meningkatkan produksi minyak mentahnya mendekati rekor tertinggi di atas 3,8 juta barel per hari pada bulan Juni setelah keluar dari OPEC untuk menghindari pembatasan produksi, dua orang yang mengetahui data produksi mengatakan pada hari Senin.

Arab Saudi telah menetapkan harga jual resmi minyak mentah Arab Light andalan mereka ke Asia pada bulan Agustus sebesar US$ 1,50 per barel di bawah rata-rata Oman/Dubai, menandai penurunan harga bulanan terbesar sejak pencatatan Reuters dimulai pada tahun 2003.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya termasuk Rusia sepakat pada hari Minggu (5/7/2026) untuk lebih meningkatkan target produksi sebesar 188.000 barel per hari mulai bulan Agustus, melebihi peningkatan serupa untuk bulan Juni dan Juli.

Namun, peningkatan tersebut masih sebagian besar di atas kertas karena perang Iran, yang menutup jalur tersebut bagi lalu lintas kapal tanker bagi produsen utama OPEC, termasuk Arab Saudi, Kuwait dan Irak, sehingga membatasi produksi mereka.

Baca Juga: Serangan Drone Israel di Lebanon Selatan Tewaskan Empat Orang

“Mereka menjual di pasar yang sedang melemah, memberikan sedikit harapan akan pemulihan harga dalam waktu dekat,” kata analis PVM, Tamas Varga.

"Namun, harga minyak yang lebih rendah tidak diragukan lagi akan merangsang permintaan lebih lanjut."

Di tempat lain, militer Ukraina mengatakan pada hari Senin bahwa mereka menyerang kilang minyak terbesar Rusia di Omsk, serta fasilitas di wilayah Yaroslavl dan Leningrad semalam.