Harga Minyak Stabil Senin (19/1), Namun Isu Greenland Picu Gejolak Pasar Baru



KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia bergerak stabil pada perdagangan Senin (19/1/2026), seiring meredanya kekhawatiran gangguan pasokan dari Iran setelah situasi kerusuhan sipil di negara tersebut mereda.

Di saat yang sama, perhatian pelaku pasar beralih ke ketegangan geopolitik baru terkait Greenland.

Baca Juga: Isi SMS Trump ke Perdana Menteri Norwegia: Kecewa Tidak Mendapat Nobel


Melansir Reuters, harga minyak Brent tercatat naik tipis 1 sen atau 0,02% ke level US$ 64,14 per barel pada pukul 19.46 GMT.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak Februari diperdagangkan stagnan di level US$ 59,44 per barel, sama dengan penutupan sebelumnya.

Aktivitas perdagangan relatif sepi karena pasar Amerika Serikat (AS) libur memperingati hari libur federal.

Ketegangan di Iran mereda setelah aparat keamanan melakukan penindakan keras terhadap aksi protes yang, menurut pernyataan resmi, menewaskan sekitar 5.000 orang.

Baca Juga: Inflasi Kanada di Desember Mencapai 2,4%, Lebih Tinggi dari Perkiraan

Presiden AS Donald Trump juga dinilai telah melunakkan sikapnya dibandingkan ancaman intervensi militer sebelumnya, sehingga mengurangi risiko gangguan pasokan dari salah satu produsen minyak utama dunia.

“Dengan meredanya kekhawatiran terkait Iran dalam beberapa hari terakhir setelah beredar rumor serangan AS, pasar kini berfokus pada situasi Greenland dan potensi dampaknya terhadap hubungan AS dan Eropa, terutama jika eskalasi perang dagang memengaruhi permintaan energi,” ujar analis Rystad Energy, Janiv Shah.

Trump diketahui meningkatkan tekanan terhadap Denmark, sesama anggota NATO, untuk mengambil alih kedaulatan Greenland.

Ia bahkan mengancam akan mengenakan tarif hukuman terhadap negara-negara yang menghalangi langkah tersebut.

Baca Juga: Terjepit Tarif AS, India Cari Napas Lewat Lonjakan Ekspor ke China

Menanggapi hal ini, Uni Eropa dikabarkan tengah mempertimbangkan langkah balasan.

Para pemimpin Uni Eropa dijadwalkan menggelar pertemuan darurat di Brussels pada Kamis mendatang untuk membahas eskalasi ketegangan tersebut.

Meski Greenland tidak memproduksi minyak, pendiri Commodity Context Rory Johnston menilai konflik ini tetap berdampak pada pasar karena meningkatkan sentimen risk-off di kalangan investor. Hal ini tercermin dari aksi jual di pasar saham global pada awal pekan.

Pasar saham dunia melemah dan dolar AS terkoreksi terhadap aset safe haven seperti yen Jepang dan franc Swiss, seiring kekhawatiran meluasnya perang dagang antara AS dan Eropa.

Baca Juga: Trump Incar 8 Negara Eropa, UE Siapkan “Bazoka Dagang”

Selain itu, pasar juga mencermati risiko kerusakan infrastruktur energi Rusia serta potensi gangguan pasokan produk distilat, di tengah prakiraan cuaca dingin ekstrem yang akan melanda Amerika Utara dan Eropa.

Kondisi ini turut menambah ketidakpastian pasar, menurut analis PVM Oil Associates John Evans.

Dalam jangka panjang, pasar minyak diperkirakan tetap menghadapi tekanan dari meningkatnya pasokan minyak Venezuela ke wilayah Pantai Teluk AS.

Namun, proyeksi terbaru Dana Moneter Internasional (IMF) yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi global lebih kuat pada 2026 berpotensi menopang permintaan minyak.

“Pasar akan terjebak di antara faktor bullish dan bearish yang saling bertolak belakang, sehingga pergerakan harga cenderung bergerak mendatar,” kata Phil Flynn, analis senior Price Futures Group.

Selanjutnya: Indonesia dan Inggris akan Menggarap Proyek Maritim

Menarik Dibaca: Nyamar Jadi Anak 20 Tahun, Ini Drakor Park Shin Hye Bintang Undercover Miss Hong