Harga Minyak Stabil Senin Pagi (19/1): Brent ke US$ 64,18 & WTI ke US$ 59,52



KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia bergerak relatif stabil pada perdagangan Senin (19/1/2026), setelah menguat pada sesi sebelumnya.

Stabilitas harga terjadi seiring meredanya gelombang protes di Iran, yang menurunkan risiko serangan Amerika Serikat terhadap salah satu produsen minyak utama di Timur Tengah tersebut.

Melansir Reuters, harga minyak Brent tercatat di level US$ 64,18 per barel pada pukul 01.58 GMT, naik tipis 5 sen atau 0,08%.


Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk kontrak Februari naik 8 sen atau 0,13% ke US$ 59,52 per barel.

Baca Juga: Baht Thailand Menguat Paling Tinggi Senin (19/1), Dolar Taiwan Melemah

Kontrak tersebut akan berakhir pada Selasa, sedangkan kontrak WTI Maret yang lebih aktif diperdagangkan berada di US$ 59,36 per barel, naik 2 sen atau 0,13%.

Meredanya ketegangan di Iran terjadi setelah pemerintah negara tersebut melakukan penindakan keras terhadap aksi protes yang dipicu kesulitan ekonomi.

Otoritas Iran mengklaim sekitar 5.000 orang tewas dalam penindakan tersebut, yang dinilai telah meredam gejolak sipil.

Presiden AS Donald Trump juga terlihat melunakkan sikapnya terkait kemungkinan intervensi, dengan menyatakan di media sosial bahwa Iran telah membatalkan rencana eksekusi massal terhadap para pengunjuk rasa, meski pemerintah Iran tidak pernah mengumumkan rencana tersebut secara resmi.

Situasi ini menurunkan peluang intervensi militer AS yang berpotensi mengganggu pasokan minyak global, mengingat Iran merupakan produsen minyak terbesar keempat di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Baca Juga: Ekonomi China Kuartal IV Melambat ke Level Terendah 3 Tahun, Target Tahunan Tercapai

Meski demikian, pergerakan harga minyak mencerminkan koreksi dari level tertinggi beberapa bulan terakhir yang dicapai pekan lalu, walaupun harga masih ditutup menguat pada akhir perdagangan Jumat.

“Penurunan ini mencerminkan berkurangnya ‘premi risiko Iran’ yang sebelumnya mendorong harga ke level tertinggi dalam 12 pekan,” ujar analis pasar IG Tony Sycamore.

Ia menambahkan, sentimen negatif juga diperkuat oleh data persediaan minyak mentah AS yang menunjukkan lonjakan pasokan.

Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan stok minyak mentah AS naik 3,4 juta barel pada pekan yang berakhir 9 Januari, berbanding terbalik dengan perkiraan analis dalam jajak pendapat Reuters yang memprediksi penurunan sekitar 1,7 juta barel.

Pasar juga masih mencermati perkembangan sektor energi Venezuela, setelah Presiden Trump menyatakan bahwa AS akan mengambil alih pengelolaan industri minyak negara tersebut usai penangkapan Presiden Nicolas Maduro.

Baca Juga: Ekonomi China Goyah: Produksi Industri Melesat, Penjualan Ritel Anjlok

Menteri Energi AS mengatakan kepada Reuters bahwa pemerintah AS tengah mempercepat proses pemberian izin produksi yang lebih luas bagi Chevron di Venezuela.

Namun demikian, pelaku pasar masih meragukan prospek peningkatan produksi minyak Venezuela dalam waktu dekat.

“Semakin jelas bahwa peningkatan produksi minyak Venezuela akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk terealisasi,” kata Sycamore.

Selanjutnya: Baht Thailand Menguat Paling Tinggi Senin (19/1), Dolar Taiwan Melemah

Menarik Dibaca: Jangan Kaget! Spek HP Tecno Spark Go 3 Bikin Flagship Minggir