KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak dunia melonjak lebih dari 2% pada perdagangan Rabu (22/7/2026), mencapai level tertinggi dalam hampir enam pekan. Kenaikan dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah setelah konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas, disertai ancaman terhadap jalur pelayaran strategis di kawasan tersebut. Kontrak minyak mentah Brent sempat menyentuh US$ 95,47 per barel sebelum diperdagangkan di kisaran US$ 93,24 per barel atau naik 2,45%.
Baca Juga: Harga Minyak Tembus Level Tertinggi Sebulan, Konflik AS-Iran Ganggu Pasokan Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 2,18% menjadi US$ 86,18 per barel. Kedua acuan tersebut merupakan level tertinggi sejak 11 Juni. "Pasar kini menghadapi risiko gangguan di dua jalur pelayaran utama yang berpotensi memperketat pasokan minyak global," kata Kepala Analis Pasar KCM Trade Tim Waterer. Lonjakan harga terjadi setelah militer AS melancarkan serangan ke Iran untuk malam ke-11 secara berturut-turut. Di saat yang sama, militer Kuwait mengklaim berhasil mencegat sejumlah drone Iran. Presiden AS Donald Trump juga memperingatkan bahwa Washington akan membalas setiap serangan Teheran terhadap kapal yang melintas di Selat Hormuz dengan menghancurkan infrastruktur strategis Iran. Ketegangan juga meluas ke Laut Merah. Kelompok Houthi yang didukung Iran mengancam akan menyerang kapal pengangkut minyak Saudi yang melintasi Selat Bab el-Mandeb dan mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi.
Baca Juga: Harga Minyak Tembus Level Tertinggi Dua Pekan Dipicu Perang Iran Misi Angkatan Laut Uni Eropa, Aspides, turut memperingatkan bahwa kapal yang memiliki keterkaitan dengan Israel, AS atau Arab Saudi menghadapi risiko serangan lebih tinggi di Laut Merah dan Teluk Aden. Situasi tersebut mulai mengganggu arus pengiriman minyak. Tiga kapal tanker yang membawa minyak mentah Saudi menuju China dan India dilaporkan berbalik arah di Laut Merah menuju Terusan Suez untuk menghindari perairan dekat Yaman. Empat kapal tanker lainnya juga mengubah rute pada Rabu.
Analis pasar Naga.com Frank Walbaum menilai pengalihan rute kapal tanker akibat ancaman Houthi berpotensi memperketat pasokan fisik minyak dan mengganggu ekspor Arab Saudi, sehingga mendorong harga minyak semakin tinggi.
Baca Juga: Harga Minyak Melonjak Hampir 6% di Tengah Kekhawatiran Eskalasi Konflik Timur Tengah Sejumlah kilang di Asia kini mulai mencari jalur alternatif dengan mengangkut minyak dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah melalui Terusan Suez dan memutar melewati Afrika demi menghindari wilayah yang dinilai berisiko. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News