KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga minyak dunia melonjak pada perdagangan Senin (20/7/2026), mencapai level tertinggi dalam lebih dari satu bulan terakhir. Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang menghambat pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia. Berdasarkan data perdagangan, kontrak berjangka minyak mentah Brent naik US$ 1,03 atau 1,17% menjadi US$ 89,13 per barel pada pukul 07.51 GMT. Harga Brent sempat menembus level tertinggi sejak 11 Juni dan melanjutkan reli pekan lalu yang mencapai 15,9%, sekaligus menjadi kenaikan mingguan terbesar sejak April. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat US$ 0,65 atau 0,79% menjadi US$ 83,14 per barel. Harga WTI menyentuh posisi tertinggi sejak 12 Juni setelah melonjak 15,5% sepanjang pekan lalu, kenaikan mingguan terbesar sejak awal Maret.
Lalu lintas kapal tanker dari Teluk menurun
Analis UBS Giovanni Staunovo menilai pasar minyak global kembali mengalami pengetatan pasokan, yang berpotensi menopang harga minyak dalam waktu dekat.
Baca Juga: Andy Burnham Jadi PM Inggris, Siapkan Perombakan Besar Kebijakan Ekonomi “Menurut pandangan saya, pasar minyak kembali mengetat, yang kemungkinan akan terus mendukung harga minyak,” ujar Staunovo. Ia menambahkan, “Serangan yang berulang terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz telah menyebabkan penurunan jumlah kapal tanker yang keluar dari kawasan Teluk.” Konflik di Timur Tengah semakin memanas sepanjang akhir pekan. Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran untuk malam kesembilan berturut-turut, sementara sekutu AS di kawasan, yakni Kuwait dan Bahrain, melaporkan adanya serangan baru dari Iran. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Senin menyatakan bahwa dua kapal tanker minyak mengalami gangguan setelah terjadi ledakan saat mencoba melintasi jalur selatan Selat Hormuz yang mereka sebut tidak aman. Iran menuding kapal-kapal tersebut diarahkan oleh militer AS untuk menggunakan jalur tersebut. Namun, Reuters belum dapat memverifikasi kebenaran insiden tersebut. Analis ANZ dalam sebuah catatan riset menyebut bahwa prospek pasokan minyak kini semakin suram. “Narasi pasokan telah berubah menjadi lebih negatif. Pemulihan aktivitas pelayaran yang sebelumnya diharapkan kini praktis terhenti, dengan volume pelayaran di Selat Hormuz turun hingga hanya mencapai satu digit,” tulis analis ANZ. Data LSEG menunjukkan hanya empat kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Minggu, turun dari delapan kapal sehari sebelumnya. Sejak Jumat, setidaknya tiga kapal tanker pengangkut produk minyak dan satu kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar memasuki selat tersebut untuk memuat minyak. Dalam beberapa hari terakhir, baik AS maupun Iran saling menargetkan lalu lintas pelayaran. Washington menyatakan tengah menerapkan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sementara Teheran menegaskan akan menindak kapal yang melanggar aturan navigasi di Selat Hormuz.
Baca Juga: KOSPI Merosot ke Posisi Terendah Dalam 3 Bulan, Investor Hindari Saham Produsen Chip Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) juga melaporkan adanya kapal yang terbakar di wilayah barat laut Kumzar, Oman, pada Senin pagi.
Ancaman terhadap pasokan energi global meningkat
Data pengiriman menunjukkan negara-negara Teluk sempat meningkatkan ekspor minyak mentah dan kondensat pada paruh pertama Juli ke level tertinggi sejak sebelum perang Iran pecah pada akhir Februari. Namun, arus pengiriman melalui Selat Hormuz kini mulai melambat seiring meningkatnya intensitas konflik.
Runtuhnya gencatan senjata antara AS dan Iran kembali memicu kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi global yang melewati Selat Hormuz. Sebelum perang Iran pecah, sekitar 20% pasokan minyak dunia melintasi jalur perairan tersebut. Iran juga dilaporkan mendesak kelompok Houthi untuk menutup jalur pelayaran Laut Merah apabila AS menyerang infrastruktur energi Iran. Gangguan terhadap Selat Hormuz berpotensi memberikan dampak besar terhadap pasar energi global, mengingat jalur tersebut merupakan titik transit utama bagi ekspor minyak dari negara-negara Teluk menuju pasar internasional. Ketidakpastian geopolitik yang terus meningkat diperkirakan akan membuat harga minyak tetap bergerak volatil dalam beberapa waktu ke depan.