Harga Minyak Tembus US$100, AS Siap Blokade Selat Hormuz



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga minyak dunia kembali melonjak tajam hingga menembus US$100 per barel pada Senin (13/4), seiring rencana Angkatan Laut Amerika Serikat untuk memblokade jalur pelayaran ke dan dari Iran melalui Selat Hormuz.

Langkah ini muncul setelah perundingan antara Washington dan Teheran gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang sedang berlangsung. Kebijakan tersebut berpotensi membatasi ekspor minyak Iran dan memicu kekhawatiran baru terhadap pasokan energi global.

Kontrak minyak mentah Brent naik US$6,67 atau sekitar 7,0% menjadi US$101,87 per barel pada pukul 06.30 GMT, setelah sebelumnya ditutup melemah. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melonjak US$7,26 atau 7,5% ke level US$103,83 per barel.

Risiko Geopolitik Kembali Dominan


Kepala riset energi MST Marquee, Saul Kavonic, menyatakan bahwa pasar kini kembali ke kondisi sebelum gencatan senjata, dengan tambahan risiko baru dari potensi blokade terhadap aliran minyak Iran hingga 2 juta barel per hari melalui Selat Hormuz.

Baca Juga: Penjualan Merek Mewah di Dubai dan Abu Dhabi Anjlok Akibat Konflik Iran

Presiden AS Donald Trump pada Minggu mengonfirmasi bahwa Angkatan Laut AS akan mulai memberlakukan blokade tersebut. Langkah ini meningkatkan ketegangan setelah pembicaraan panjang dengan Iran gagal menghasilkan kesepakatan, sekaligus mengancam gencatan senjata rapuh yang baru berjalan dua pekan.

Trump juga mengakui bahwa harga minyak dan bahan bakar kemungkinan tetap tinggi hingga pemilu paruh waktu November mendatang, mencerminkan dampak politik dari kebijakan militernya terhadap Iran.

Analis pasar Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, menilai bahwa ancaman penegakan blokade saja sudah cukup untuk meningkatkan premi risiko geopolitik di pasar minyak.

Implementasi Blokade oleh Militer AS

Komando Pusat AS atau United States Central Command menyatakan bahwa blokade akan mulai diberlakukan pada pukul 10.00 waktu AS Timur. Langkah ini mencakup seluruh lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran, baik di Teluk Arab maupun Teluk Oman.

Meski demikian, AS menegaskan bahwa kebebasan navigasi bagi kapal yang tidak menuju pelabuhan Iran tetap dijamin.

Di sisi lain, Garda Revolusi Iran memperingatkan bahwa setiap kapal militer yang mendekati Selat Hormuz akan dianggap melanggar gencatan senjata dan akan ditindak tegas.

Baca Juga: Bank Dunia Peringatkan Krisis Lapangan Kerja, Defisit Bisa Capai 800 Juta Orang

Pasar Masih Harapkan Solusi

Meskipun negosiasi awal gagal, analis komoditas SEB, Bjarne Schieldrop, menyebut pasar masih berharap adanya resolusi terkait Selat Hormuz sebelum Juni.

Data pelayaran menunjukkan bahwa beberapa kapal tanker raksasa masih sempat melintasi Selat Hormuz pada akhir pekan lalu, menjadi pengiriman pertama sejak kesepakatan gencatan senjata dicapai sebelumnya. Namun, banyak kapal kini mulai menghindari jalur tersebut menjelang implementasi blokade AS.

Dampak terhadap Pasokan Global

Di tengah ketegangan ini, Arab Saudi menyatakan telah memulihkan kapasitas penuh pengiriman minyak melalui jalur pipa East-West hingga sekitar 7 juta barel per hari, setelah sebelumnya terdampak serangan selama konflik Iran.

Langkah ini diharapkan dapat membantu menstabilkan pasokan global, meskipun risiko gangguan dari kawasan Teluk tetap tinggi.

Dengan eskalasi geopolitik yang terus berkembang, pasar energi global diperkirakan akan tetap volatil, dengan harga minyak sangat sensitif terhadap perkembangan situasi di Selat Hormuz.