Harga Minyak Tembus US$100 per Barel, Saham Energi di BEI Berpotensi Diuntungkan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak dunia kembali menembus level US$100 per barel, yang merupakan level tertinggi sejak 2022. Kenaikan ini dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana mengatakan lonjakan harga minyak sebenarnya menjadi sentimen positif bagi saham-saham yang memiliki eksposur langsung terhadap komoditas energi.

Namun pada perdagangan terbaru, dampaknya terhadap pasar saham domestik tidak sepenuhnya positif karena Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mengalami tekanan akibat sentimen global risk-off.


“Kenaikan harga minyak memang menjadi sentimen kuat, tetapi investor global cenderung mengurangi risiko di emerging markets, termasuk Indonesia, di tengah meningkatnya konflik geopolitik,” kata Hendra kepada Kontan, Senin (9/3/2026).

Baca Juga: Saham Energi Melonjak: Cermati Peluang Cuan Saat Harga Minyak Meroket!

Meski demikian, dari sisi sektoral, saham-saham energi dinilai relatif lebih defensif dibandingkan sektor lainnya.

Menurut Hendra, emiten yang bergerak di sektor hulu migas maupun jasa penunjang migas cenderung mendapat sentimen positif ketika harga minyak meningkat.

Beberapa saham yang dinilai berpotensi mendapat perhatian investor antara lain PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), serta sejumlah emiten jasa migas seperti PT Elnusa Tbk (ELSA).

“Ketika harga komoditas energi melonjak, saham-saham energi biasanya menjadi salah satu sektor yang paling cepat mendapatkan perhatian investor karena dianggap sebagai hedging sector,” jelasnya.

Dari sisi investasi, Hendra menilai emiten produsen minyak dan gas menjadi kelompok yang paling diuntungkan dari kenaikan harga minyak.

Produsen seperti MEDC berpotensi menikmati peningkatan margin karena harga jual minyak yang lebih tinggi.

Baca Juga: Harga Komoditas Energi Terbang, Ini Rekomendasi Saham Pilihan Emiten Energi

Selain itu, perusahaan jasa penunjang migas juga berpotensi memperoleh manfaat dari meningkatnya aktivitas eksplorasi dan produksi energi saat harga minyak berada di level tinggi.

Sebaliknya, perusahaan yang bergerak di distribusi atau perdagangan bahan bakar minyak (BBM) tidak selalu mendapatkan keuntungan signifikan karena kinerjanya lebih dipengaruhi oleh kebijakan harga domestik serta regulasi pemerintah.

“Dalam kondisi seperti sekarang, investor biasanya lebih fokus pada perusahaan yang memiliki eksposur langsung terhadap produksi energi atau aktivitas hulu migas,” tambahnya.

Ke depan, pergerakan harga minyak masih akan sangat dipengaruhi perkembangan geopolitik, khususnya konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu jalur distribusi energi global seperti Selat Hormuz.

Baca Juga: Tahun Kuda Api 2026, Saham Sektor Logam dan Energi Diprediksi Moncer

Dalam jangka pendek, Hendra menilai harga minyak berpotensi bertahan di atas US$100 per barel selama ketegangan geopolitik masih berlangsung dan pasokan global berisiko terganggu.

Namun untuk menembus hingga level US$150 per barel, diperlukan gangguan pasokan yang jauh lebih besar, misalnya penutupan jalur distribusi utama atau penurunan produksi signifikan dari negara produsen utama.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak juga membawa tantangan bagi perekonomian Indonesia. Sebagai negara net importer minyak, lonjakan harga energi berpotensi meningkatkan beban subsidi pemerintah serta menambah tekanan inflasi domestik.

Baca Juga: Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Saham Energi, Ini Rekomendasi Analis

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News