Harga Minyak Tembus US$106, Bursa Asia Tertekan di Awal Pekan



KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia bergerak melemah pada perdagangan Senin (28/9/2026), di tengah kenaikan harga minyak dan lonjakan imbal hasil obligasi.

Ketidakpastian negosiasi Amerika Serikat (AS) dan Iran membuat investor kembali mencermati risiko inflasi serta kemungkinan suku bunga bertahan tinggi lebih lama.

Harga minyak Brent berjangka naik 2,1% menjadi US$106,49 per barel. Dengan kenaikan tersebut, harga Brent telah menguat hampir 18% sepanjang September.


Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 1,5% menjadi US$93,84 per barel.

Baca Juga: Taylor Swift Raih Video of the Year di MTV VMA 2026

Kenaikan harga minyak terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran akan berlanjut pekan ini, meski belum terlihat tanda-tanda Teheran melonggarkan tuntutannya.

Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global. Terlebih, keterbatasan kapasitas pengolahan minyak telah mendorong harga diesel ke level tertinggi sepanjang masa dan jauh di atas harga minyak mentah.

Kenaikan harga energi berpotensi membuat tekanan inflasi bertahan lebih lama. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kebijakan bank sentral yang sebelumnya mulai melonggarkan kebijakan moneter.

Bank sentral Australia diperkirakan menjadi salah satu bank sentral yang kembali menaikkan suku bunga ketika menggelar pertemuan kebijakan pada Selasa (29/9).

Di AS, pasar kini memperkirakan peluang sekitar 66% Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga pada Oktober. Pasar juga memperhitungkan sekitar 90 basis poin pengetatan kebijakan hingga akhir tahun depan.

Baca Juga: Harga Minyak Brent Melonjak 2% Jelang Tengah Hari Ini, Bertahan di US$ 106 Per Barel

Bursa Asia Melemah

Di pasar saham, indeks Nikkei Jepang bergerak relatif datar. Sementara itu, indeks saham Korea Selatan yang volatil merosot 2,4%.

Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,6%. Saham-saham unggulan China juga melemah 1,4% dan telah turun lebih dari 5% sepanjang September.

Kontrak berjangka S&P 500 turun 0,3%, sedangkan Nasdaq futures melemah 0,5%. Di Eropa, EUROSTOXX 50 futures naik 0,4%, DAX futures menguat 0,3%, dan FTSE futures naik 0,2%.

Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury tenor 30 tahun naik menjadi 5,5185%, mendekati level tertinggi sejak 2004. Sepanjang September, yield tersebut telah melonjak 27 basis poin.

Baca Juga: Laba Industri China Melambat, Ketimpangan Ekonomi Makin Terlihat

Sementara itu, yield US Treasury tenor dua tahun telah meningkat 55 basis poin pada bulan ini karena investor meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

Mark Cabana, rate strategist di Bank of America, menilai tekanan jual di pasar obligasi masih dapat berlanjut seiring pasar memperhitungkan suku bunga The Fed yang lebih tinggi.

"Repricing mungkin tidak akan berhenti sampai ada bukti jelas bahwa kondisi keuangan telah menjadi cukup ketat," kata Cabana.

Kenaikan yield obligasi juga meningkatkan biaya pembiayaan perusahaan secara global. Kondisi ini menjadi perhatian khusus bagi perusahaan teknologi yang tengah menghimpun dana dalam jumlah besar untuk ekspansi AI, sekaligus meningkatkan tingkat diskonto terhadap proyeksi laba perusahaan.

Data Ekonomi AS Jadi Perhatian

Investor juga akan mencermati serangkaian data ekonomi AS pekan ini, mulai dari inflasi, produk domestik bruto (PDB), aktivitas manufaktur hingga pasar tenaga kerja.

Data ketenagakerjaan AS pada Jumat diperkirakan menunjukkan penambahan 85.000 pekerjaan pada September, sementara tingkat pengangguran diperkirakan bertahan di 4,1%.

Sejumlah data ekonomi AS yang sebelumnya kuat telah mendorong indeks dolar AS ke level tertinggi dalam dua bulan, yakni 101,39.

Baca Juga: Lewati Bos Facebook, Harta Kekakayaan Pengusaha Komputer Ini Terbanyak Keempat Dunia

Di pasar valuta asing, euro melemah ke US$1,1380 dan telah turun 2% sepanjang September. Dolar AS naik 0,3% terhadap yen menjadi 157,73 yen.

Sementara itu, poundsterling berada di sekitar level terendah dalam tiga bulan di US$1,3240.

Di pasar komoditas, harga emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga turun 1,7% menjadi US$4.212 per ons troi. Harga emas telah turun lebih dari 4% sepanjang September seiring kenaikan imbal hasil obligasi AS.